Saturday, November 25, 2006

ujian nih

untuk menguji ilmu tawakal, Allah menurunkan masalah,
untuk menguji ilmu ikhlas, Allah menurunkan cobaan.

hm ... Allah,
kali ini Engkau sedang mengujiku tentang kedua hal itu,
lewat masalah bisnis.

mudah2an aku lulus dengan predikat baik.

Monday, November 13, 2006

alquran dalam tasku

dalam tasku istriku selalu menyelipkan alquran.
seperti tadi pagi. ketika aku akan berangkat ke jakarta, wajahnya murung sekali. mulutnya terkunci rapat sambil menyeterika baju yang hendak aku pakai. memang selalu begitu selama ini. mungkin karena sedih hendak kutinggal. -- padahal aku lebih butuh semangat dari pada kesedihan ketika hendak mencari nafkah. tapi syukurlah aku mulai terbiasa dengan sifat sangat lembutnya itu. tapi tetap saja, "rasa berat melangkah" itu ada.

ah, begitu baiknya ia. alquran dalam tasku, yang ia selalu masukkan sebelum aku pergi. aku rasa, itu bukti cintanya. kepadaku dan kepadaNya.

maafkan aku ya sayang.

Tuesday, October 17, 2006

semua orang cari inis ebenarnya

Iseng-iseng, malam-malam, mak bedunduk kok mikir tentang tawakal. Di tengah kehidupan yang keliatannya serba cepat: siang penuh asap, orang berkeringat, motor di sela-sela mobil yang macet tidak karuan, gedung-gedung tinggi, deru AC, Cipularang yang kencang, pekerjaan, ombang-ambing keinginan, deal-deal bisnis, hutang usaha, tagihan, kewajiban, proyek .... lalu muncul sebuah pertanyaan yang aku kira - kalau bisa menjawabnya - kemudian menerapkannya, sepertinya akan tenang deh:

Seperti apa sih konsep tergantung hanya pada Allah?
Apa tidak butuh orang lain?

Aku belum dapat jawabnya, kecuali seberkas kesejukan ketika mendapati bahwa (ini idealnya):

ketergantungan itu letaknya di hati. Sekamar dengan ikhlas, seruang dengan tawakal.

Tergantung hanya pada Allah itu inti dari aqidah.

Harapmu tak ada yang lain kecuali Allah memenuhi segenap ruang obsesimu
Nafsumu tak ada yang lain kecuali berjumpa dengan Allah di tempat yang dijanjikannya,
Allah menjadi segala obsesimu,
Janji Allah terus mengiangi segenap isi otakmu.

Allah tak pernah luput apalagi lupa janji,

Kakimu menginjak tanah, hatimu menggapai-gapai langit.
Kamu negosiasi sama orang, tapi menyerahkan hasilnya kepada Allah

Hanya Allah, yang kau tak akan capek ketika mengiba-iba,
Hanya Allah yang kau tak akan kecewa meminta-minta.

Saturday, October 14, 2006

jendral itu ngapain sih?

Aih, itu kenapa para jendral masih perlu latihan membedil setahun sekali
Semakin tinggi posisi komandan,
Kemampuan merayap, mengintai, membuat tenda,
Mengasah sangkur, survival di utan
dan … membedil ternyata tak seperti waktu sang jendral baru lulus akademi.
Jendral bisanya membaca peta,
Corat-coret sekenanya,
Lalu prajurit blusukan menjalankan komando sang jendral.

"Siap, ndral, si kampret sudah kena"

"Aha, bagus .. bagus. tolong dioseng saja. kasih bumbu ini, bumbu itu,
sajikan dengan cara begini"

"Ndral, gimana cara masaknya?"

"Terserah kamu"

"Besok subuh selesai ya. siapkan di meja saya"

Hehe,

Prajuritpun blusukan mencari kompor dan memasak.

Jendral?

Ssstt ... latihan mbedil.

Friday, October 13, 2006

sipit



istriku lagi. matanya sipit ya. sampai ada lho yang nanya sama dia, "teh, mualaf ya?" he he, dikirinya chinese. padahal asli garut.
kasian euy. seminggu ini ditinggal ke jakarta. sakit pula. sekarang ada di garut.
sepertinya dia lebih stabil kalau pas di rumah orang tuanya ketika aku tak ada di rumah.tapi ... memang ada yang harus dibayar untuk sebuah kemandirian. sabar ya sayang. ayo bersemangat...!

Kisah Pohon Apel (kiriman dari teman)

Di suatu masa dahulu ada sebatang pohon apel yang amat besar. Seorang
kanak-kanak lelaki begitu gemar bermain-main di sekitar pohon apel
ini setiap hari.Dia memanjat pohon tersebut, memetik serta memakan
apel sepuas-puas hatinya, dan adakalanya dia beristirahat lalu
terlelap di pohon apel tersebut. Anak lelaki tersebut begitu
menyayangi tempat permainannya dan sepertinya pohon apel itu juga
menyukai anak tersebut.

Waktu berlalu... anak lelaki itu sudah besar dan menjadi seorang
remaja. Dia tidak lagi menghabiskan waktu setiap hari bermain di
sekitar pohon apel tersebut. Namun demikian, pada suatu hari dia
datang ke pohon apel tersebut dengan wajah yang sedih. "Marilah
bermain-mainlah di sekitarku," ajak pohon apel itu." Aku bukan lagi
kanak-kanak, aku tidak lagi gemar bermain dengan engkau," jawab
remaja itu." Aku mau mainan. Aku perlu uang untuk membeli mainan,"
tambah remaja itu dengan nada yang sedih. Lalu pohon apel itu
berkata, " Kalau begitu, petiklah apel-apel yang ada padaku. Juallah
untuk mendapatkan uang. Dengan itu, kau dapat membeli permainan yang
kau inginkan."

Remaja itu dengan gembiranya memetik semua apel dipohon itu dan pergi
dari situ. Dia tidak kembali lagi. Pohon apel itu merasa sedih.
Kemudian waktu terus berlalu...Suatu hari, remaja itu kembali. Dia
semakin dewasa. Pohon apel itu merasa gembira. "Marilah nak bermain-
main di sekitarku," ajak pohon apel itu."Aku tak waktu untuk bermain.
Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin membuat rumah
sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Maukah kamu menolongku
wahai pohon apel?" Tanya anak itu."

Pohon apel menjawab "Maafkan aku. Aku tidak mempunyai rumah. Tetapi
kau boleh memotong dahan-dahanku yang besar ini dan kau buatlah rumah
dari padanya." Lalu, remaja yang semakin dewasa itu memotong seluruh
dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembiranya. Pohon
apel itu pun turut gembira tetapi kemudiannya merasa sedih karena
remaja itu tidak kembali lagi.

Suatu hari yang panas, seorang lelaki datang menemui pohon apel yang
sudah gundul itu . Lelaki itu sebenarnya adalah anak lelaki yang
pernah bermain-main dengan pohon apel itu. Dia telah matang dan
dewasa."Marilah bermain-mainlah di sekitarku," ajak pohon apel itu."
Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yangsuka bermain-main
di sekitarmu. Aku sudah dewasa. Aku mempunyai cita-cita untuk
belayar. Malangnya, aku tidak mempunyai perahu. Maukah kau
menolongku lagi ?" kata lelaki itu."

Aku tidak mempunyai perahu untuk diberikan kepadamu. Tetapi kau boleh
memotong batang utama pohon ini untuk dijadikan perahu. Kau akan
dapat belayar dengan gembira," kata pohon apel itu. Lelaki itu merasa
amat sedang dan menebang batang pohon apel itu. Dia kemudiannya pergi
dari situ dengan gembiranya dan tidak kembali lagi.

Akhirnya pada suatu hari, seorang lelaki yang semakin dimakan usia,
datang kembali menuju pohon apel itu. "Maafkan aku. Aku tidak ada apa-
apa lagi untuk diberikan kepadamu. Aku sudah memberikan buah untuk di
jual, dahanku dan ranting untuk kau buat rumah, batang utamaku untuk
buat perahu. Aku hanya akar yang hampir mati..." kata pohon apel itu
dengan nada pilu.

"Aku tidak mau apelmu karena aku sudah tidak bergigi untuk
memakannya, aku tidak mau dahanmu kerana aku sudah terlalu tua untuk
memotongnya, aku tidak mau batang pohonmu karena aku tidak belayar
lagi, aku merasa lelah dan ingin istirahat," jawab lelaki tua
itu. "Jika begitu, istirahatlah di perduku," kata pohon apel itu.
Lalu lelaki tua itu duduk beristirahat di perdu pohon apel itu.
Mereka berdua menangis....

Sebenarnya, pohon apel yang dimaksudkan di dalam cerita itu adalah
kedua ibu bapak kita. Bila kita masih muda, kita suka bermain
dengan mereka. Ketika kita meningkat remaja, kita perlukan bantuan
mereka untuk meneruskan hidup. Kita tinggalkan mereka dan hanya
kembali meminta pertolongan apabila kita didalam kesusahan. Namun
begitu, mereka tetap menolong kita dan melakukan apa saja asalkan kita
bahagia
dan gembira dalam hidup. Anda mungkin berfikir bahwa anak lelaki itu
bersikap
kejam terhadap pohon apel itu, tetapi
fikirkanlah, itu hakikatnya bagaimana kebanyakan anak-anak masa kini
terhadap ibu-bapa mereka. Hargailah jasa ibu bapak kita. Jangan hanya
kita menghargai mereka karena kita butuh saja, kasih orang tua tidak
pernah habis, selamanya.

mudik gak ya? (part 2)

baru saja telepon-teleponan dengan lik yati di banyuwangi. dia yang inlok ke sini (jkt).
perbincangannya seputar kebingunnya di mana lebaran mau ngumpul.
kalau tempat ngumpul jelas di malang. tapi masalahnya, mobilnya lagi ngadat. berangkat naik angkutan dengan seluruh anggota keluarga tentu saja faktor ongkos jadi pertimbangan. lagi pula, sebenarnya tanggal 12 november mas ari nikahan di surabaya, tanggal 13-nya 100 hari dek siska di tuban. artinya, masih di bulan syawal yang sama pasti akan ada kumpul2. satunya lebaran, satunya acara mas ari dan de siska di tuban.

meme, katanya juga bingung.

lho kok sama bingungnya ya? aku juga bingung.

yang jadi pikiran adalah yi dan kung. beliau2 sudah sepuh. riskan sekali. rasanya pasti akan membahagiakan sekali kalau bisa kumpul2. reunian. menyenangkan beliau berdua. sholat ied sama-sama, sungkeman. duh, hangat rasanya.
terus apa jadinya kalau anak cucunya pada ga bisa kumpul? apalagi, katanya tanggal 20 lik wat melawat ke beijing, seminggu. berarti lebaran di sana.

teringat tadi siang chat sama mba ira. kami sempat menyinggung soal kung. katanya "beliau selalu membanggakanmu" .. "matanya selalu berbinar bila membicarakanmu" .. dan, "tapi sekarang sering anget badannya" .. "maklum sudah sepuh".

duh, tak tahan aku.
belum tentu tahun depan kami masih bisa berkumpul. usia tak ada yang tahu. kalau aku duluan yang kepundut mungkin aku ndak merasa sedih (ga sedih gimana maksudnya?), tapi kalau kung atau yi? kalau bisa kumpul pun, mumpung sekarang smua pada sehat.

dilema.
ke sana juga butuh dana.
bulan depannya balik lagi.

sungguh bingung.

istriku bingung ga ya?
mungkin bingun juga, bingung kalau aku ajak mudik (hehe, karena dia inginnya lebaran di garut dulu ..) (maklum, ini lebaran pertama kami)

mudik gak ya? (part 2)

baru saja telepon-teleponan dengan lik yati di banyuwangi. dia yang inlok ke sini (jkt).
perbincangannya seputar kebingunnya di mana lebaran mau ngumpul.
kalau tempat ngumpul jelas di malang. tapi masalahnya, mobilnya lagi ngadat. berangkat naik angkutan dengan seluruh anggota keluarga tentu saja faktor ongkos jadi pertimbangan. lagi pula, sebenarnya tanggal 12 november mas ari nikahan di surabaya, tanggal 13-nya 100 hari dek siska di tuban. artinya, masih di bulan syawal yang sama pasti akan ada kumpul2. satunya lebaran, satunya acara mas ari dan de siska di tuban.

meme, katanya juga bingung.

lho kok sama bingungnya ya? aku juga bingung.

yang jadi pikiran adalah yi dan kung. beliau2 sudah sepuh. riskan sekali. rasanya pasti akan membahagiakan sekali kalau bisa kumpul2. reunian. menyenangkan beliau berdua. sholat ied sama-sama, sungkeman. duh, hangat rasanya.
terus apa jadinya kalau anak cucunya pada ga bisa kumpul? apalagi, katanya tanggal 20 lik wat melawat ke beijing, seminggu. berarti lebaran di sana.

teringat tadi siang chat sama mba ira. kami sempat menyinggung soal kung. katanya "beliau selalu membanggakanmu" .. "matanya selalu berbinar bila membicarakanmu" .. dan, "tapi sekarang sering anget badannya" .. "maklum sudah sepuh".

duh, tak tahan aku.
belum tentu tahun depan kami masih bisa berkumpul. usia tak ada yang tahu. kalau aku duluan yang kepundut mungkin aku ndak merasa sedih (ga sedih gimana maksudnya?), tapi kalau kung atau yi? kalau bisa kumpul pun, mumpung sekarang smua pada sehat.

dilema.
ke sana juga butuh dana.
bulan depannya balik lagi.

sungguh bingung.

istriku bingung ga ya?
mungkin bingun juga, bingung kalau aku ajak mudik (hehe, karena dia inginnya lebaran di garut dulu ..) (maklum, ini lebaran pertama kami)

Thursday, October 12, 2006

mudik gak ya?

lebaran sebentar lagi, terancam gak bisa mudik di hari ied nih. tiket mahal sekali. kan berdua, berarti yang sudah mahal harus doble.
hehe, sebagai keluarga baru, belum bagus bener nih perencanaannya. termasuk dalam hal menabung ketika merencanakan mau pergi2. pantas saja ya, lihat di berita-berita waktu dulu, sering kali orang kepepet waktu mau mudik, akhirnya nyolong dan jadi maling deh. dulu gak yakin, ternyata lebaran memang banyak kebutuhan (atau keinginan ya) mendesak.
mudah2an setelah ini lebih terencana.

Thursday, October 05, 2006

psikosomatis

ada apa ya? pernah dengar psikosomatik? katanya, ia adalah aneka keluhan fisik yang disebabkan karena faktor psikologis.
adakah aku sedang mengalaminya. oh, rapuh nian ya.
sebulan ini, badanku rapuh sekali.
diawali awal bulan lalu, amandelku kambuh. aneh, pdahal belasan tahun tak pernah kambuh. dan tiba-tiba saja, seluruh pantangan itu datang kembali: es, gorengan, saus. cukup sakit sekitar 5 hari. sembuhlah aku.
hingga awal puasa lalu, buka hari pertama di garut makan mi ayam dengan saus yang banyak. besok paginya, tenggorokan langsung sakit. langsung periksa dokter, dan amandel kambuh lagi. apa? hanya berselang 2 minggu sudah kambuh lagi.
kali ini lebih naas. ternyata aku alergi terhadap antibiotik dari jenis sulfa. ah, baru tau aku. akibatnya, badan gatal semua, tidak kuat kalau tidak digaruk. dibedakin, dibawa ke dokter lagi hingg 2 kali. dan sekarang kulit punggung seperti mau ganti kulit gitu. belum cukup, kulit kering sekali kayak bersisik. bibir percah2, perih sekali kalau senyum.
dan.. kekurangoptimalan senyum bahaya sekali, karena istriku tercinta sangat sensitif kalau ada orng yang ga senyum. akibatnya, ia beberapa kali merasa aku cuekin, merasa aku tidak antusias, dan seterusnya. dampaknya kembali padaku. istri yang "kecewa" hati membuat langkah serasa berat dengan beban. ke jakarta yang sudah panas semakin panas. padahal kerjaan dan bisnis di jakarta bener2 menuntut pikiran yang fress dan hati yang lapang. tidak bisa diberat2in, karena memang sudah berat.
duh, sebenernya tak ingin mengeluh. tapi sepertinya inilah hikmahnya. aku harus punya ilmu lengkap. mulai dari ilmu tentang kesehatan umum, ilmu psikologis memperlakukan istri, cukup olahraga biar ga gampang sakit, ilmu tentang pola makan, dan seterusnya. agar tidak hanya menuntut orang lain (dan istri), tidak juga menuntut diri. tapi yang paling penting: bagaimana ilmu harus tambah terus melampaui beban masalah yang setiap hari pasti tambah.
terima kasih istriku, terima kasih setiap masalah, membuatku tambah bijak. insyaAllah.

Friday, September 29, 2006

dimanapun berada


"semoga kemanapun kau menuju suatu tempat, engkau menambah jumlah orang bertakwa di sana.
semoga, di tempat belahan bumi manapun kau singgah, singgahmu menjadikan bumi tempat berpijakmu bertambah berat dengan berat satu lagi orang bertakwa di atasnya"

jangan sebaliknya.

Monday, September 25, 2006

ramadhan pertama setelah nikah


sedang ramadhan. dua hari pertama kemarin, kami di garut, bareng keluarga istri (lha, sekarang ya keluargaku juga to). ini adalah ramadhan pertama bersama istri, meskipun ia tidak sedang puasa. sekarang, sahur dilayani.

ia semalam cerita, dulu .. waktu masih gadis, susah banget kalau dibangunin sama mama yang hendak pergi ke pasar (ohya, mama mertuaku buka warung kelontong kecil di rumah, setiap subuh pergi ke pasar untuk belanja). tapi sekarang, bangunnya harus lebih dulu dari suami. nyiapin air anget, nyeplok telur, dan menyajikannya.

hihi, lucu sekali, karena ia tidak sahur, habis nyiapin hidanganku, ia langsung ambil selimut dan menyandarkan kepalanya di pangkuanku... tidur kembali...:)

ah, lucu nian ia. mungkin karena masih 22 tahun. mungkin karena anak bungsu. mungkin karena memang sifatnya gitu. atau mungkin karena ia sudah punya orang yang sangat dicintainya: aku.

juwita rirta

tadi siang, sebelum berangkat ke jakarta, istriku menangis lagi. duh, kok jadi banyak membuatnya menangis ya. menangis karena mau ditinggal sama suaminya untuk 2-3 hari.

memang sepertinya sepele, karena ada yang harus pisahan berbulan bahkan bertahun lamanya. jauh pula. tetapi istriku memang seperti itu. hatinya lembut sekali. mungkin karena juga budaya daerahnya yang tidak biasa jauh-jauh dari orang terkasih.
lha, sekarang aku sudah jadi orang terkasihnya.

agak bingung juga sih, bagaimana harus membuatnya kuat, .. selain mengajaknya mengarungi waktu-waktu "agak" sulit ini. ah, juwitaku. terserah orang mau bilang apa, rasa-rasanya ... semakin hari aku semakin mencintainya. kutitip ke Allah, Ia akan menjadi penjagamu yang paling perkasa dan penyayang. maaf ya istriku, bukannya mau lebih sok tau tentang kehidupan. tapi, sepertinya hidup memang sekali-kali akan seperti ini.

-- maaf nih blog nya sedang romantis --

Wednesday, September 20, 2006

ini istriku


What a simple is

ohya, ini istriku. namanya rita hartati. asli garut. ketemu di Daarut Tauhiid, pas sama-sama nyantri. syukur nian menemukannya (ups, dipertemukan olehNya ding). sederhana lahir batinnya. tapi itulah yang membuatnya elok. banyak sebutan yang aku julukkan ke dia: bidadari, juwita, sayang, istri sholehah. hihi, inginnya, nanti bisa berkumpul juga di akherat, di syurganya Allah. ketemua Allah yang wuah maha luar biasa itu, ketemu rasulullah, bisa kumpul dengan keluarga semua di sana (bapak, ibu, mama, meme, dik siska, semua keluarga besarlah).

meskipun kadang-kadang suka ngambek, tapi aku tahu ngambeknya itu karena cinta, karena mengkhawatirkan suaminya. ah, kasihan ia, belakangan agak sering kesepian sendiri. kutinggal 3-4 hari di bandung ketika aku ke jakarta untuk menjemput rizki. sabar ya juwitaku. ini memang sulit untuk dimengerti. dan sabar memang bukan berarti pasrah. tapi kali ini, aku memintamu untuk bersabar. dari pada sedih, kita banyakin doa ya. mudah2an Allah segera mendekatkan kita setiap hari. aku cinta kamu, demi seluruh umurku, dan masa depanku di hadapan Allah.

ritme jakarta

di jakarta, orang kerja berangkat hampir tak pernah telat. tapi pulangnya hampir pasti telat. mungkin alasannya jamak, pulang jam pulan kerja jalanan pasti macet. lama-lama mungkin itu jadi kebiasaan. dan ada semacam perasaan aneh kalau pulangnya kecepetan (tepat waktu). so, rumah hanya singgah saja. kalau sudah ada istri, bagaimana ya perasaan istrinya di rumah? masihkah seperti istriku yang setiap hari harap-harap cemas menantiku pulang, dan sedikit tidak bisa menutupi kegundahgulanaan hatinya kalau aku telat pulang?
masihkah di jakarta ada home sweet home? aku harap masih ada. dan banyak.
mudah-mudahan di sini para suami semakin cinta istrinya (cinta sebanding lurus dengan usia pernikahan, semakin lama semakin cinta). demikian pun istri semakin cinta suaminya.

jadi teringat bincang-bincang sambil makan nasi bungkus tadi siang bareng teman. "wajar saja ya, di jakarta semua pemuas nafsu tersedia luas. kebutuhan "rohani" bisa disalurkan di jalan-jalan, di keremangan, di hingar bingarnya bunyi-bunyian, di deretan botol-botol dan gelas-gelas, dan di sela-sela derai tawa yang cekikikan di mana saja".

untuk rekan2 yang masih sangat cinta keluarganya. semoga konsisten.

Friday, September 01, 2006

Cerita Kecil


Dulu, waktu kecil, yang paling menyedihkan setelah berkumpul waktu lebaran atau liburan sekolah adalah saat harus pulang kembali ke rumah masing-masing. Kebersamaan selama seminggu - sebulan dengan sodara-sodara, rasanya menyisakan kesesakan berupa perpisahan. Biasanya saya aku tidak sampai menangis meraung-raung ketika Bulik Rum sekeluarga pulang, lalu Lik Wati menyusul, Budhe, meme, Lik Yat, dan akhirnya Bapak dan Ibu yang membawaku serta pulang. Tapi tetap, yang ada menyisakan perasaan sesak. Saya belum bisa menerjemahkan perasaan itu waktu itu. Tapi jelas sekali dada rasanya sesak.
Lalu, ketika bangun di pagi berikutnya di rumah sendiri, rasanya seperti terbangun di kasur yang khas segarnya di rumah Kung dan Yi. Padahal sudah tidak lagi. Masih ingat rutinitas liburan yang menyenangkan di pagi hari:bangun pagi-pagi, biasanya subuh agak telat - sewaktu aktivitas ibu-ibu sudah mulai (ribut memasak di dapur). Kung sudah menyapu-nyapu halaman depan sampai belakang, dan kemudian mengajak kami jalan-jalan keliling desa. Kebiasaan ini berlanjut hingga sekarang. Cucu-cucu Kung, terutama yang masih usia sekolah dasar menjadi langganan diajak jalan-jalan. Yang sudah gedhe pun masih suka seperti itu, sekarang kamilah yang menemani kakung.
Kakung sudah pensiun sejak lama. Waktu aku TK pun sudah. Seingatku sejak aku bisa mengingat, Kakung adalah seorang pensiunan sinder di Perhutani. Beliau sangat penyayang, peramah, sekaligus kalau ada cucunya yang mbeling tak segan untuk njewer sampai nangis. Aku jadi langganan dijewer, tapi jarang menangis. He he .. mungkin itu ya yang menyebabkan aku agak tahan banting dan tidak manja sekarang.

Waktu beranjak. kami sudah lebih dewasa. Tapi kebiasaan merasa sesak kalau berpisah masih saja ada, terutama setelah lebaran (karena sekarang libur kumpulnya hanya lebaran saja), meskipun kadar sesaknya sudah tidak seperti dulu lagi.

Mungkin orang menilai ini sifat sentimentil. Tapi apa boleh buat, inilah aku. Dan biasanya, inilah sifat anak-anak dan cucu-cucu Kung dan Yi. Kami memang sangat dekat. Menyatu. Serasa sekandung.

Dan dua tahun ini, perjumpaan dan perpisahaan karena pulang masih berjalan seperti biasa setiap lebaran. Bahkan cucu-cucunya Kung sudah ada yang mulai menikah (termasuk aku), dan mungkin lebaran depan ini mbak Yanti melahirkan anak pertamanya dengan mas Fina (lha aku dan istri juga insyaAllah menyusul).

Begitulah, kebiasaan silaturahmi, berceria ria (jadi ingat dulu kebiasaan yang laki-laki alias mantu, anak, dan cucu-cucu main catur atau main kartu), juga rapat keluarga (macam-macamlah yang dirapatkan) masa ada sampai sekarang. Dan di antara pertemuan dan perpisahan, lalu ada penambahan keluarga baru (nikah dan punya anak). Ada juga berpisah karena mininggal.

Sudah satu lebaran dan satu yang akan datang ini, yang pertama Budhe Mien (kakak pertama ibu), Januari 2005. Dan ... dik Siska ku sayang, Selasa 8 Agustus 2006 baru ini. Oh, sesak yang sesungguhnya seperti dulu waktu kecil aku rasakan kembali. Kali ini bahkan lebih hebat.

Selamat jalan dek Siska. Kita berjumpa lagi. Di Surganya Allah, mudah-mudahan.
Selama jalan juga budhe ...

Untuk yang sekarang masih bisa bertemu fisik, semoga kebersamaan tak disia-siakan. AKu ingin mengambdi pada kebersamaan ini. I love you, Ibu, Rita istriku, dan semua keluarga yang ada.

di atas parahyangan jakarta-bandung, di sebuah sore jelang maghrib, 14 Agustus 2006.

Wednesday, August 16, 2006

Tak akan murung

Bagaimana aku akan bermuram muka ketika masalah datang.
Sedangkan adikku saja, menghadapi kematian dengan senyuman,
saat-saat akhir pun, ia masih sanggup menebar keceriaan.

Untuk orang-orang yang teguh. Untuk dik Siska. Mas mu tak akan murung untuk apapun masalah yang datang menghadang. Innalaha ma'ana

Jenu, Tuban, 12 Agustus 2006
Untuk adikku, Siska Yuli Rianti, yang darimu mas belajar banyak tentang ketabahan dan mewujudkan rasa syukur.

mas mu, adik ku

Adikku, enkau ditakdirkan sebagai peri, semua yang berkumpul menjadi ceria ketika engkau hadir.
Engkau pula yang ditakdirkan sebagai bidadari, dunia melirik jeli ketika engkau melintas sekilas.

Duhai yang hanya sekejap,
Duhai yang hanya mengecup kuntum melati lalu pergi...
Engkau berjuta cerita
Sulit kami lupa.

Mas Wahyu-mu
Bandung - Tuban (di atas brebes), 10 agustus 2006 (sekuat cahaya, ingin sekali memeluk jasadmu tadi pagi sebelum engkau dimakamkan, tapi tak keburu.. maaf ya dik)

Untuk dik Siska Yuli Rianti, meninggal di usia 23 tahun lebih sebulan (9 Juli 1983 - 8 Agustus 2006), di tuban.

Wednesday, August 09, 2006

dik siska kepundut

setelah lama tidak menulis blog, menyesal nian menuliskannya dengan sebuah kabar duka. berita itu datang semalam, lewat ponsel istri yang sedang pulas di sampingku. ia mengangkatnya, dan langsung memberikan kepadaku. di ujung sana, suara wanita yang sangat kukenal terisak sambil berkata "Yu, dik Siska kepundut" .... Ibuku mengabarkan "mimpi" itu lewat suara yang bercampur air mata. hingga saat itu, tak terlalu sadar aku. ah ... ini mimpi.
Hingga kusadari ternyata ada sebuah pesan singkat yang menyangkut di ponselku sendiri, dari lik wat, saudara bungsu ibu. "Kembali ke pangkuan Tuhan Yang Maha Kasih, adinda SISKA YULI RIANTI: selasa 9 agt 06. SEmoga Tuhan melapangkan amalannya menuju taman firdaus yang tenang. Amin" dikirim pukul 01:50:29.
Lalu mbak Ira, telepon selang beberapa menit kemudian, "Kamu sudah tau ta, dik siska ...." ucapanyya terputus lirih sekali.
dan ... meme menelepon, "nang ... dik siska ..." ah.... tumpah air mata di pelukan istriku. terjaga dari ketakpercayaan.

dik Siska, begitu banyak kebaikannya... adikku....

Sunday, March 12, 2006

nikah euy

ah, lama nian aku tak pernah menulis di sini.
sebentar lagi nikah euy .... insyaAllah.