subuh tadi ada telepon dari istriku. ia bilang, hasil swa-test nya positif. kalau menurut alat penunjuk itu, berarti istriku hamil.
terdengar jelas di ujung telepon ia sedang gundah. pertama insyaAllah ia bahagia, kedua cemas karena riwayat kesehatannya pernah mengalami keguguran setengah tahun lalu. dan kemarin ketika hasil tesnya positif, ia masih mengeluarkan darah seperti darah haid. mirip dengan enam bulan lalu. ketiga, ia pun merasa bingung, karena berarti sedikit banyak harus menahan keinginan untuk aktif di kegiatan kampus (ia sempat kuliah mulai tahun kemarin).
untuk yang pertama, tak jadi soal. karena diam-diam aku sangat mengharapkan kehadiran buah hati pertama ini. untuk yang kedua, sebenarnya aku juga ikut cemas.aku tak ingin lagi istriku keguguran. bukan hanya karena tak mau calon bayi itu tak jadi hadir, tapi aku tak ingin melihat istriku harus melewati masa-masa tegang selama dikiret, kasihan. dan untuk soal ketiga, aku sebenarnya memahami. aku pun tak yakin kalau ia hamil besar dan kemudian melahirkan aku bisa menjamin ia akan bisa seleluasa sekarang untuk berkegiatan di kampusnya. aku sudah menjanjikan untuknya seorang babby sitter yang dapat membantunya mengurus anak kami nanti, atau ketika bayi kami lahir ... minimal sekali sebuah rumah yang layak dan nyaman telah ada untuk kami, sehingga ia dan bayinya dapat bermain dengan leluasa di rumah kami. tak apa mungil, asal bersih. meskipun mungkin masih ngontrak.
sebagai keluarga muda, kami memang serba bingung. tapi aku ingin rumah tangga kami menjadi rumah tangga yang mandiri. memang berat kelihatannya, karena sewaktu menikah jujur saja aku kurang mempersiapkan diri dengan tumpukan kekayaan kecuali niat dan siap untuk bertanggung jawab. sehingga barusetelah menikah diriku harus pontang-panting mencukupi segalanya. bisa dibayangkan, siang hari selepas wisuda, aku langsung melamarnya dengan hanyamembawa tiga kotak Kartikasari. dan tiga bulan kemudian aku menikah ketika bisnisku belum menghasilkan apa2 untukku kecuali pengalaman yang tidak semuanyabagus.
tapi ini seru. menguji iman adakah ia masih ditempatnya.atau ragu-ragu dan cemas berhasil meminggirkan janji Allah tentang rizki. yang pasti, mendapat telepon subuh tadi, semangatku menjadi berlipat-lipat. semoga satu lagi tanggung jawab ini (di antara banyak tanggung jawab yang lain), dapat kami emban dengan sempurna.
Thursday, January 24, 2008
Wednesday, January 09, 2008
Kata-kata ibu
Delapan tahun lalu, saya pernah mendengar kata-kata yang sebenarnya sudah biasa saya dengar, tapi beda sekali ketika itu diucapkan ibu saya.
Ceritanya, waktu itu sebagai anak kampung untuk pertama kali saya berstatus sebagai mahasiswa di kota besar, Bandung. Lima hari saja saya di sana, belum juga masuk kuliah, saya berniat untuk mengurungkan niat saja sekolah di sini. Dan saya mengangkat telepon, memberanikan diri menjilat ludah sendiri dengan mengatakan kepada ibu saya bahwa saya ingin kuliah di tempat semula saja, di Malang. Biarlah kuliah di tempat yang biasa-biasa saja asalkan hati nyaman, banyak teman. Begitu pikir saya.
Lalu ibu saya menangis. Saya tahu, beliau awalnya tidak begitu suka saya kuliah di Bandung. Dan pastinya kabar dari saya ini membuatnya gembira karena artinya saya akan pulang segera. Tapi di tengah isak tangisnya itu, beliau mengatakan, "Kalau gitu, berarti kamu sudah kalah sebelum berperang."
Seperti geledek, seperti pintu pulang yang telah ditutup, seperti tolakan keras permohonan untuk pulang. Kata-kata itu menjadi inspirasi hingga sekarang. Ibuku senang aku pulang, tapi sekaligus sedih kalau aku ternyata sebegitu lembek menghadapi tantangan hidup. Dan ibuku memilih tidak membukakan pintu untukku pulang ke rumah. "Terbang ... terbang ... jangan pulang sebelum menang"
Ah, padahal Bandung - rumah itu naik bis hanya semalam. Masih dalam satu pulau. Tapi begitulah, waktu itu terasa jauh sekali. Sekarang pun kadang-kadang masih terasa jauh. Bukan karena jarak, tapi terutama ketika saya ingat ibu yang sekarang sendirian di rumah. Hm ... doa anakmu sepanjang jalan, Bu.
Ceritanya, waktu itu sebagai anak kampung untuk pertama kali saya berstatus sebagai mahasiswa di kota besar, Bandung. Lima hari saja saya di sana, belum juga masuk kuliah, saya berniat untuk mengurungkan niat saja sekolah di sini. Dan saya mengangkat telepon, memberanikan diri menjilat ludah sendiri dengan mengatakan kepada ibu saya bahwa saya ingin kuliah di tempat semula saja, di Malang. Biarlah kuliah di tempat yang biasa-biasa saja asalkan hati nyaman, banyak teman. Begitu pikir saya.
Lalu ibu saya menangis. Saya tahu, beliau awalnya tidak begitu suka saya kuliah di Bandung. Dan pastinya kabar dari saya ini membuatnya gembira karena artinya saya akan pulang segera. Tapi di tengah isak tangisnya itu, beliau mengatakan, "Kalau gitu, berarti kamu sudah kalah sebelum berperang."
Seperti geledek, seperti pintu pulang yang telah ditutup, seperti tolakan keras permohonan untuk pulang. Kata-kata itu menjadi inspirasi hingga sekarang. Ibuku senang aku pulang, tapi sekaligus sedih kalau aku ternyata sebegitu lembek menghadapi tantangan hidup. Dan ibuku memilih tidak membukakan pintu untukku pulang ke rumah. "Terbang ... terbang ... jangan pulang sebelum menang"
Ah, padahal Bandung - rumah itu naik bis hanya semalam. Masih dalam satu pulau. Tapi begitulah, waktu itu terasa jauh sekali. Sekarang pun kadang-kadang masih terasa jauh. Bukan karena jarak, tapi terutama ketika saya ingat ibu yang sekarang sendirian di rumah. Hm ... doa anakmu sepanjang jalan, Bu.
Subscribe to:
Posts (Atom)