Friday, September 01, 2006

Cerita Kecil


Dulu, waktu kecil, yang paling menyedihkan setelah berkumpul waktu lebaran atau liburan sekolah adalah saat harus pulang kembali ke rumah masing-masing. Kebersamaan selama seminggu - sebulan dengan sodara-sodara, rasanya menyisakan kesesakan berupa perpisahan. Biasanya saya aku tidak sampai menangis meraung-raung ketika Bulik Rum sekeluarga pulang, lalu Lik Wati menyusul, Budhe, meme, Lik Yat, dan akhirnya Bapak dan Ibu yang membawaku serta pulang. Tapi tetap, yang ada menyisakan perasaan sesak. Saya belum bisa menerjemahkan perasaan itu waktu itu. Tapi jelas sekali dada rasanya sesak.
Lalu, ketika bangun di pagi berikutnya di rumah sendiri, rasanya seperti terbangun di kasur yang khas segarnya di rumah Kung dan Yi. Padahal sudah tidak lagi. Masih ingat rutinitas liburan yang menyenangkan di pagi hari:bangun pagi-pagi, biasanya subuh agak telat - sewaktu aktivitas ibu-ibu sudah mulai (ribut memasak di dapur). Kung sudah menyapu-nyapu halaman depan sampai belakang, dan kemudian mengajak kami jalan-jalan keliling desa. Kebiasaan ini berlanjut hingga sekarang. Cucu-cucu Kung, terutama yang masih usia sekolah dasar menjadi langganan diajak jalan-jalan. Yang sudah gedhe pun masih suka seperti itu, sekarang kamilah yang menemani kakung.
Kakung sudah pensiun sejak lama. Waktu aku TK pun sudah. Seingatku sejak aku bisa mengingat, Kakung adalah seorang pensiunan sinder di Perhutani. Beliau sangat penyayang, peramah, sekaligus kalau ada cucunya yang mbeling tak segan untuk njewer sampai nangis. Aku jadi langganan dijewer, tapi jarang menangis. He he .. mungkin itu ya yang menyebabkan aku agak tahan banting dan tidak manja sekarang.

Waktu beranjak. kami sudah lebih dewasa. Tapi kebiasaan merasa sesak kalau berpisah masih saja ada, terutama setelah lebaran (karena sekarang libur kumpulnya hanya lebaran saja), meskipun kadar sesaknya sudah tidak seperti dulu lagi.

Mungkin orang menilai ini sifat sentimentil. Tapi apa boleh buat, inilah aku. Dan biasanya, inilah sifat anak-anak dan cucu-cucu Kung dan Yi. Kami memang sangat dekat. Menyatu. Serasa sekandung.

Dan dua tahun ini, perjumpaan dan perpisahaan karena pulang masih berjalan seperti biasa setiap lebaran. Bahkan cucu-cucunya Kung sudah ada yang mulai menikah (termasuk aku), dan mungkin lebaran depan ini mbak Yanti melahirkan anak pertamanya dengan mas Fina (lha aku dan istri juga insyaAllah menyusul).

Begitulah, kebiasaan silaturahmi, berceria ria (jadi ingat dulu kebiasaan yang laki-laki alias mantu, anak, dan cucu-cucu main catur atau main kartu), juga rapat keluarga (macam-macamlah yang dirapatkan) masa ada sampai sekarang. Dan di antara pertemuan dan perpisahan, lalu ada penambahan keluarga baru (nikah dan punya anak). Ada juga berpisah karena mininggal.

Sudah satu lebaran dan satu yang akan datang ini, yang pertama Budhe Mien (kakak pertama ibu), Januari 2005. Dan ... dik Siska ku sayang, Selasa 8 Agustus 2006 baru ini. Oh, sesak yang sesungguhnya seperti dulu waktu kecil aku rasakan kembali. Kali ini bahkan lebih hebat.

Selamat jalan dek Siska. Kita berjumpa lagi. Di Surganya Allah, mudah-mudahan.
Selama jalan juga budhe ...

Untuk yang sekarang masih bisa bertemu fisik, semoga kebersamaan tak disia-siakan. AKu ingin mengambdi pada kebersamaan ini. I love you, Ibu, Rita istriku, dan semua keluarga yang ada.

di atas parahyangan jakarta-bandung, di sebuah sore jelang maghrib, 14 Agustus 2006.

No comments: