Tuesday, October 17, 2006

semua orang cari inis ebenarnya

Iseng-iseng, malam-malam, mak bedunduk kok mikir tentang tawakal. Di tengah kehidupan yang keliatannya serba cepat: siang penuh asap, orang berkeringat, motor di sela-sela mobil yang macet tidak karuan, gedung-gedung tinggi, deru AC, Cipularang yang kencang, pekerjaan, ombang-ambing keinginan, deal-deal bisnis, hutang usaha, tagihan, kewajiban, proyek .... lalu muncul sebuah pertanyaan yang aku kira - kalau bisa menjawabnya - kemudian menerapkannya, sepertinya akan tenang deh:

Seperti apa sih konsep tergantung hanya pada Allah?
Apa tidak butuh orang lain?

Aku belum dapat jawabnya, kecuali seberkas kesejukan ketika mendapati bahwa (ini idealnya):

ketergantungan itu letaknya di hati. Sekamar dengan ikhlas, seruang dengan tawakal.

Tergantung hanya pada Allah itu inti dari aqidah.

Harapmu tak ada yang lain kecuali Allah memenuhi segenap ruang obsesimu
Nafsumu tak ada yang lain kecuali berjumpa dengan Allah di tempat yang dijanjikannya,
Allah menjadi segala obsesimu,
Janji Allah terus mengiangi segenap isi otakmu.

Allah tak pernah luput apalagi lupa janji,

Kakimu menginjak tanah, hatimu menggapai-gapai langit.
Kamu negosiasi sama orang, tapi menyerahkan hasilnya kepada Allah

Hanya Allah, yang kau tak akan capek ketika mengiba-iba,
Hanya Allah yang kau tak akan kecewa meminta-minta.

Saturday, October 14, 2006

jendral itu ngapain sih?

Aih, itu kenapa para jendral masih perlu latihan membedil setahun sekali
Semakin tinggi posisi komandan,
Kemampuan merayap, mengintai, membuat tenda,
Mengasah sangkur, survival di utan
dan … membedil ternyata tak seperti waktu sang jendral baru lulus akademi.
Jendral bisanya membaca peta,
Corat-coret sekenanya,
Lalu prajurit blusukan menjalankan komando sang jendral.

"Siap, ndral, si kampret sudah kena"

"Aha, bagus .. bagus. tolong dioseng saja. kasih bumbu ini, bumbu itu,
sajikan dengan cara begini"

"Ndral, gimana cara masaknya?"

"Terserah kamu"

"Besok subuh selesai ya. siapkan di meja saya"

Hehe,

Prajuritpun blusukan mencari kompor dan memasak.

Jendral?

Ssstt ... latihan mbedil.

Friday, October 13, 2006

sipit



istriku lagi. matanya sipit ya. sampai ada lho yang nanya sama dia, "teh, mualaf ya?" he he, dikirinya chinese. padahal asli garut.
kasian euy. seminggu ini ditinggal ke jakarta. sakit pula. sekarang ada di garut.
sepertinya dia lebih stabil kalau pas di rumah orang tuanya ketika aku tak ada di rumah.tapi ... memang ada yang harus dibayar untuk sebuah kemandirian. sabar ya sayang. ayo bersemangat...!

Kisah Pohon Apel (kiriman dari teman)

Di suatu masa dahulu ada sebatang pohon apel yang amat besar. Seorang
kanak-kanak lelaki begitu gemar bermain-main di sekitar pohon apel
ini setiap hari.Dia memanjat pohon tersebut, memetik serta memakan
apel sepuas-puas hatinya, dan adakalanya dia beristirahat lalu
terlelap di pohon apel tersebut. Anak lelaki tersebut begitu
menyayangi tempat permainannya dan sepertinya pohon apel itu juga
menyukai anak tersebut.

Waktu berlalu... anak lelaki itu sudah besar dan menjadi seorang
remaja. Dia tidak lagi menghabiskan waktu setiap hari bermain di
sekitar pohon apel tersebut. Namun demikian, pada suatu hari dia
datang ke pohon apel tersebut dengan wajah yang sedih. "Marilah
bermain-mainlah di sekitarku," ajak pohon apel itu." Aku bukan lagi
kanak-kanak, aku tidak lagi gemar bermain dengan engkau," jawab
remaja itu." Aku mau mainan. Aku perlu uang untuk membeli mainan,"
tambah remaja itu dengan nada yang sedih. Lalu pohon apel itu
berkata, " Kalau begitu, petiklah apel-apel yang ada padaku. Juallah
untuk mendapatkan uang. Dengan itu, kau dapat membeli permainan yang
kau inginkan."

Remaja itu dengan gembiranya memetik semua apel dipohon itu dan pergi
dari situ. Dia tidak kembali lagi. Pohon apel itu merasa sedih.
Kemudian waktu terus berlalu...Suatu hari, remaja itu kembali. Dia
semakin dewasa. Pohon apel itu merasa gembira. "Marilah nak bermain-
main di sekitarku," ajak pohon apel itu."Aku tak waktu untuk bermain.
Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin membuat rumah
sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Maukah kamu menolongku
wahai pohon apel?" Tanya anak itu."

Pohon apel menjawab "Maafkan aku. Aku tidak mempunyai rumah. Tetapi
kau boleh memotong dahan-dahanku yang besar ini dan kau buatlah rumah
dari padanya." Lalu, remaja yang semakin dewasa itu memotong seluruh
dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembiranya. Pohon
apel itu pun turut gembira tetapi kemudiannya merasa sedih karena
remaja itu tidak kembali lagi.

Suatu hari yang panas, seorang lelaki datang menemui pohon apel yang
sudah gundul itu . Lelaki itu sebenarnya adalah anak lelaki yang
pernah bermain-main dengan pohon apel itu. Dia telah matang dan
dewasa."Marilah bermain-mainlah di sekitarku," ajak pohon apel itu."
Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yangsuka bermain-main
di sekitarmu. Aku sudah dewasa. Aku mempunyai cita-cita untuk
belayar. Malangnya, aku tidak mempunyai perahu. Maukah kau
menolongku lagi ?" kata lelaki itu."

Aku tidak mempunyai perahu untuk diberikan kepadamu. Tetapi kau boleh
memotong batang utama pohon ini untuk dijadikan perahu. Kau akan
dapat belayar dengan gembira," kata pohon apel itu. Lelaki itu merasa
amat sedang dan menebang batang pohon apel itu. Dia kemudiannya pergi
dari situ dengan gembiranya dan tidak kembali lagi.

Akhirnya pada suatu hari, seorang lelaki yang semakin dimakan usia,
datang kembali menuju pohon apel itu. "Maafkan aku. Aku tidak ada apa-
apa lagi untuk diberikan kepadamu. Aku sudah memberikan buah untuk di
jual, dahanku dan ranting untuk kau buat rumah, batang utamaku untuk
buat perahu. Aku hanya akar yang hampir mati..." kata pohon apel itu
dengan nada pilu.

"Aku tidak mau apelmu karena aku sudah tidak bergigi untuk
memakannya, aku tidak mau dahanmu kerana aku sudah terlalu tua untuk
memotongnya, aku tidak mau batang pohonmu karena aku tidak belayar
lagi, aku merasa lelah dan ingin istirahat," jawab lelaki tua
itu. "Jika begitu, istirahatlah di perduku," kata pohon apel itu.
Lalu lelaki tua itu duduk beristirahat di perdu pohon apel itu.
Mereka berdua menangis....

Sebenarnya, pohon apel yang dimaksudkan di dalam cerita itu adalah
kedua ibu bapak kita. Bila kita masih muda, kita suka bermain
dengan mereka. Ketika kita meningkat remaja, kita perlukan bantuan
mereka untuk meneruskan hidup. Kita tinggalkan mereka dan hanya
kembali meminta pertolongan apabila kita didalam kesusahan. Namun
begitu, mereka tetap menolong kita dan melakukan apa saja asalkan kita
bahagia
dan gembira dalam hidup. Anda mungkin berfikir bahwa anak lelaki itu
bersikap
kejam terhadap pohon apel itu, tetapi
fikirkanlah, itu hakikatnya bagaimana kebanyakan anak-anak masa kini
terhadap ibu-bapa mereka. Hargailah jasa ibu bapak kita. Jangan hanya
kita menghargai mereka karena kita butuh saja, kasih orang tua tidak
pernah habis, selamanya.

mudik gak ya? (part 2)

baru saja telepon-teleponan dengan lik yati di banyuwangi. dia yang inlok ke sini (jkt).
perbincangannya seputar kebingunnya di mana lebaran mau ngumpul.
kalau tempat ngumpul jelas di malang. tapi masalahnya, mobilnya lagi ngadat. berangkat naik angkutan dengan seluruh anggota keluarga tentu saja faktor ongkos jadi pertimbangan. lagi pula, sebenarnya tanggal 12 november mas ari nikahan di surabaya, tanggal 13-nya 100 hari dek siska di tuban. artinya, masih di bulan syawal yang sama pasti akan ada kumpul2. satunya lebaran, satunya acara mas ari dan de siska di tuban.

meme, katanya juga bingung.

lho kok sama bingungnya ya? aku juga bingung.

yang jadi pikiran adalah yi dan kung. beliau2 sudah sepuh. riskan sekali. rasanya pasti akan membahagiakan sekali kalau bisa kumpul2. reunian. menyenangkan beliau berdua. sholat ied sama-sama, sungkeman. duh, hangat rasanya.
terus apa jadinya kalau anak cucunya pada ga bisa kumpul? apalagi, katanya tanggal 20 lik wat melawat ke beijing, seminggu. berarti lebaran di sana.

teringat tadi siang chat sama mba ira. kami sempat menyinggung soal kung. katanya "beliau selalu membanggakanmu" .. "matanya selalu berbinar bila membicarakanmu" .. dan, "tapi sekarang sering anget badannya" .. "maklum sudah sepuh".

duh, tak tahan aku.
belum tentu tahun depan kami masih bisa berkumpul. usia tak ada yang tahu. kalau aku duluan yang kepundut mungkin aku ndak merasa sedih (ga sedih gimana maksudnya?), tapi kalau kung atau yi? kalau bisa kumpul pun, mumpung sekarang smua pada sehat.

dilema.
ke sana juga butuh dana.
bulan depannya balik lagi.

sungguh bingung.

istriku bingung ga ya?
mungkin bingun juga, bingung kalau aku ajak mudik (hehe, karena dia inginnya lebaran di garut dulu ..) (maklum, ini lebaran pertama kami)

mudik gak ya? (part 2)

baru saja telepon-teleponan dengan lik yati di banyuwangi. dia yang inlok ke sini (jkt).
perbincangannya seputar kebingunnya di mana lebaran mau ngumpul.
kalau tempat ngumpul jelas di malang. tapi masalahnya, mobilnya lagi ngadat. berangkat naik angkutan dengan seluruh anggota keluarga tentu saja faktor ongkos jadi pertimbangan. lagi pula, sebenarnya tanggal 12 november mas ari nikahan di surabaya, tanggal 13-nya 100 hari dek siska di tuban. artinya, masih di bulan syawal yang sama pasti akan ada kumpul2. satunya lebaran, satunya acara mas ari dan de siska di tuban.

meme, katanya juga bingung.

lho kok sama bingungnya ya? aku juga bingung.

yang jadi pikiran adalah yi dan kung. beliau2 sudah sepuh. riskan sekali. rasanya pasti akan membahagiakan sekali kalau bisa kumpul2. reunian. menyenangkan beliau berdua. sholat ied sama-sama, sungkeman. duh, hangat rasanya.
terus apa jadinya kalau anak cucunya pada ga bisa kumpul? apalagi, katanya tanggal 20 lik wat melawat ke beijing, seminggu. berarti lebaran di sana.

teringat tadi siang chat sama mba ira. kami sempat menyinggung soal kung. katanya "beliau selalu membanggakanmu" .. "matanya selalu berbinar bila membicarakanmu" .. dan, "tapi sekarang sering anget badannya" .. "maklum sudah sepuh".

duh, tak tahan aku.
belum tentu tahun depan kami masih bisa berkumpul. usia tak ada yang tahu. kalau aku duluan yang kepundut mungkin aku ndak merasa sedih (ga sedih gimana maksudnya?), tapi kalau kung atau yi? kalau bisa kumpul pun, mumpung sekarang smua pada sehat.

dilema.
ke sana juga butuh dana.
bulan depannya balik lagi.

sungguh bingung.

istriku bingung ga ya?
mungkin bingun juga, bingung kalau aku ajak mudik (hehe, karena dia inginnya lebaran di garut dulu ..) (maklum, ini lebaran pertama kami)

Thursday, October 12, 2006

mudik gak ya?

lebaran sebentar lagi, terancam gak bisa mudik di hari ied nih. tiket mahal sekali. kan berdua, berarti yang sudah mahal harus doble.
hehe, sebagai keluarga baru, belum bagus bener nih perencanaannya. termasuk dalam hal menabung ketika merencanakan mau pergi2. pantas saja ya, lihat di berita-berita waktu dulu, sering kali orang kepepet waktu mau mudik, akhirnya nyolong dan jadi maling deh. dulu gak yakin, ternyata lebaran memang banyak kebutuhan (atau keinginan ya) mendesak.
mudah2an setelah ini lebih terencana.

Thursday, October 05, 2006

psikosomatis

ada apa ya? pernah dengar psikosomatik? katanya, ia adalah aneka keluhan fisik yang disebabkan karena faktor psikologis.
adakah aku sedang mengalaminya. oh, rapuh nian ya.
sebulan ini, badanku rapuh sekali.
diawali awal bulan lalu, amandelku kambuh. aneh, pdahal belasan tahun tak pernah kambuh. dan tiba-tiba saja, seluruh pantangan itu datang kembali: es, gorengan, saus. cukup sakit sekitar 5 hari. sembuhlah aku.
hingga awal puasa lalu, buka hari pertama di garut makan mi ayam dengan saus yang banyak. besok paginya, tenggorokan langsung sakit. langsung periksa dokter, dan amandel kambuh lagi. apa? hanya berselang 2 minggu sudah kambuh lagi.
kali ini lebih naas. ternyata aku alergi terhadap antibiotik dari jenis sulfa. ah, baru tau aku. akibatnya, badan gatal semua, tidak kuat kalau tidak digaruk. dibedakin, dibawa ke dokter lagi hingg 2 kali. dan sekarang kulit punggung seperti mau ganti kulit gitu. belum cukup, kulit kering sekali kayak bersisik. bibir percah2, perih sekali kalau senyum.
dan.. kekurangoptimalan senyum bahaya sekali, karena istriku tercinta sangat sensitif kalau ada orng yang ga senyum. akibatnya, ia beberapa kali merasa aku cuekin, merasa aku tidak antusias, dan seterusnya. dampaknya kembali padaku. istri yang "kecewa" hati membuat langkah serasa berat dengan beban. ke jakarta yang sudah panas semakin panas. padahal kerjaan dan bisnis di jakarta bener2 menuntut pikiran yang fress dan hati yang lapang. tidak bisa diberat2in, karena memang sudah berat.
duh, sebenernya tak ingin mengeluh. tapi sepertinya inilah hikmahnya. aku harus punya ilmu lengkap. mulai dari ilmu tentang kesehatan umum, ilmu psikologis memperlakukan istri, cukup olahraga biar ga gampang sakit, ilmu tentang pola makan, dan seterusnya. agar tidak hanya menuntut orang lain (dan istri), tidak juga menuntut diri. tapi yang paling penting: bagaimana ilmu harus tambah terus melampaui beban masalah yang setiap hari pasti tambah.
terima kasih istriku, terima kasih setiap masalah, membuatku tambah bijak. insyaAllah.