Friday, September 29, 2006

dimanapun berada


"semoga kemanapun kau menuju suatu tempat, engkau menambah jumlah orang bertakwa di sana.
semoga, di tempat belahan bumi manapun kau singgah, singgahmu menjadikan bumi tempat berpijakmu bertambah berat dengan berat satu lagi orang bertakwa di atasnya"

jangan sebaliknya.

Monday, September 25, 2006

ramadhan pertama setelah nikah


sedang ramadhan. dua hari pertama kemarin, kami di garut, bareng keluarga istri (lha, sekarang ya keluargaku juga to). ini adalah ramadhan pertama bersama istri, meskipun ia tidak sedang puasa. sekarang, sahur dilayani.

ia semalam cerita, dulu .. waktu masih gadis, susah banget kalau dibangunin sama mama yang hendak pergi ke pasar (ohya, mama mertuaku buka warung kelontong kecil di rumah, setiap subuh pergi ke pasar untuk belanja). tapi sekarang, bangunnya harus lebih dulu dari suami. nyiapin air anget, nyeplok telur, dan menyajikannya.

hihi, lucu sekali, karena ia tidak sahur, habis nyiapin hidanganku, ia langsung ambil selimut dan menyandarkan kepalanya di pangkuanku... tidur kembali...:)

ah, lucu nian ia. mungkin karena masih 22 tahun. mungkin karena anak bungsu. mungkin karena memang sifatnya gitu. atau mungkin karena ia sudah punya orang yang sangat dicintainya: aku.

juwita rirta

tadi siang, sebelum berangkat ke jakarta, istriku menangis lagi. duh, kok jadi banyak membuatnya menangis ya. menangis karena mau ditinggal sama suaminya untuk 2-3 hari.

memang sepertinya sepele, karena ada yang harus pisahan berbulan bahkan bertahun lamanya. jauh pula. tetapi istriku memang seperti itu. hatinya lembut sekali. mungkin karena juga budaya daerahnya yang tidak biasa jauh-jauh dari orang terkasih.
lha, sekarang aku sudah jadi orang terkasihnya.

agak bingung juga sih, bagaimana harus membuatnya kuat, .. selain mengajaknya mengarungi waktu-waktu "agak" sulit ini. ah, juwitaku. terserah orang mau bilang apa, rasa-rasanya ... semakin hari aku semakin mencintainya. kutitip ke Allah, Ia akan menjadi penjagamu yang paling perkasa dan penyayang. maaf ya istriku, bukannya mau lebih sok tau tentang kehidupan. tapi, sepertinya hidup memang sekali-kali akan seperti ini.

-- maaf nih blog nya sedang romantis --

Wednesday, September 20, 2006

ini istriku


What a simple is

ohya, ini istriku. namanya rita hartati. asli garut. ketemu di Daarut Tauhiid, pas sama-sama nyantri. syukur nian menemukannya (ups, dipertemukan olehNya ding). sederhana lahir batinnya. tapi itulah yang membuatnya elok. banyak sebutan yang aku julukkan ke dia: bidadari, juwita, sayang, istri sholehah. hihi, inginnya, nanti bisa berkumpul juga di akherat, di syurganya Allah. ketemua Allah yang wuah maha luar biasa itu, ketemu rasulullah, bisa kumpul dengan keluarga semua di sana (bapak, ibu, mama, meme, dik siska, semua keluarga besarlah).

meskipun kadang-kadang suka ngambek, tapi aku tahu ngambeknya itu karena cinta, karena mengkhawatirkan suaminya. ah, kasihan ia, belakangan agak sering kesepian sendiri. kutinggal 3-4 hari di bandung ketika aku ke jakarta untuk menjemput rizki. sabar ya juwitaku. ini memang sulit untuk dimengerti. dan sabar memang bukan berarti pasrah. tapi kali ini, aku memintamu untuk bersabar. dari pada sedih, kita banyakin doa ya. mudah2an Allah segera mendekatkan kita setiap hari. aku cinta kamu, demi seluruh umurku, dan masa depanku di hadapan Allah.

ritme jakarta

di jakarta, orang kerja berangkat hampir tak pernah telat. tapi pulangnya hampir pasti telat. mungkin alasannya jamak, pulang jam pulan kerja jalanan pasti macet. lama-lama mungkin itu jadi kebiasaan. dan ada semacam perasaan aneh kalau pulangnya kecepetan (tepat waktu). so, rumah hanya singgah saja. kalau sudah ada istri, bagaimana ya perasaan istrinya di rumah? masihkah seperti istriku yang setiap hari harap-harap cemas menantiku pulang, dan sedikit tidak bisa menutupi kegundahgulanaan hatinya kalau aku telat pulang?
masihkah di jakarta ada home sweet home? aku harap masih ada. dan banyak.
mudah-mudahan di sini para suami semakin cinta istrinya (cinta sebanding lurus dengan usia pernikahan, semakin lama semakin cinta). demikian pun istri semakin cinta suaminya.

jadi teringat bincang-bincang sambil makan nasi bungkus tadi siang bareng teman. "wajar saja ya, di jakarta semua pemuas nafsu tersedia luas. kebutuhan "rohani" bisa disalurkan di jalan-jalan, di keremangan, di hingar bingarnya bunyi-bunyian, di deretan botol-botol dan gelas-gelas, dan di sela-sela derai tawa yang cekikikan di mana saja".

untuk rekan2 yang masih sangat cinta keluarganya. semoga konsisten.

Friday, September 01, 2006

Cerita Kecil


Dulu, waktu kecil, yang paling menyedihkan setelah berkumpul waktu lebaran atau liburan sekolah adalah saat harus pulang kembali ke rumah masing-masing. Kebersamaan selama seminggu - sebulan dengan sodara-sodara, rasanya menyisakan kesesakan berupa perpisahan. Biasanya saya aku tidak sampai menangis meraung-raung ketika Bulik Rum sekeluarga pulang, lalu Lik Wati menyusul, Budhe, meme, Lik Yat, dan akhirnya Bapak dan Ibu yang membawaku serta pulang. Tapi tetap, yang ada menyisakan perasaan sesak. Saya belum bisa menerjemahkan perasaan itu waktu itu. Tapi jelas sekali dada rasanya sesak.
Lalu, ketika bangun di pagi berikutnya di rumah sendiri, rasanya seperti terbangun di kasur yang khas segarnya di rumah Kung dan Yi. Padahal sudah tidak lagi. Masih ingat rutinitas liburan yang menyenangkan di pagi hari:bangun pagi-pagi, biasanya subuh agak telat - sewaktu aktivitas ibu-ibu sudah mulai (ribut memasak di dapur). Kung sudah menyapu-nyapu halaman depan sampai belakang, dan kemudian mengajak kami jalan-jalan keliling desa. Kebiasaan ini berlanjut hingga sekarang. Cucu-cucu Kung, terutama yang masih usia sekolah dasar menjadi langganan diajak jalan-jalan. Yang sudah gedhe pun masih suka seperti itu, sekarang kamilah yang menemani kakung.
Kakung sudah pensiun sejak lama. Waktu aku TK pun sudah. Seingatku sejak aku bisa mengingat, Kakung adalah seorang pensiunan sinder di Perhutani. Beliau sangat penyayang, peramah, sekaligus kalau ada cucunya yang mbeling tak segan untuk njewer sampai nangis. Aku jadi langganan dijewer, tapi jarang menangis. He he .. mungkin itu ya yang menyebabkan aku agak tahan banting dan tidak manja sekarang.

Waktu beranjak. kami sudah lebih dewasa. Tapi kebiasaan merasa sesak kalau berpisah masih saja ada, terutama setelah lebaran (karena sekarang libur kumpulnya hanya lebaran saja), meskipun kadar sesaknya sudah tidak seperti dulu lagi.

Mungkin orang menilai ini sifat sentimentil. Tapi apa boleh buat, inilah aku. Dan biasanya, inilah sifat anak-anak dan cucu-cucu Kung dan Yi. Kami memang sangat dekat. Menyatu. Serasa sekandung.

Dan dua tahun ini, perjumpaan dan perpisahaan karena pulang masih berjalan seperti biasa setiap lebaran. Bahkan cucu-cucunya Kung sudah ada yang mulai menikah (termasuk aku), dan mungkin lebaran depan ini mbak Yanti melahirkan anak pertamanya dengan mas Fina (lha aku dan istri juga insyaAllah menyusul).

Begitulah, kebiasaan silaturahmi, berceria ria (jadi ingat dulu kebiasaan yang laki-laki alias mantu, anak, dan cucu-cucu main catur atau main kartu), juga rapat keluarga (macam-macamlah yang dirapatkan) masa ada sampai sekarang. Dan di antara pertemuan dan perpisahan, lalu ada penambahan keluarga baru (nikah dan punya anak). Ada juga berpisah karena mininggal.

Sudah satu lebaran dan satu yang akan datang ini, yang pertama Budhe Mien (kakak pertama ibu), Januari 2005. Dan ... dik Siska ku sayang, Selasa 8 Agustus 2006 baru ini. Oh, sesak yang sesungguhnya seperti dulu waktu kecil aku rasakan kembali. Kali ini bahkan lebih hebat.

Selamat jalan dek Siska. Kita berjumpa lagi. Di Surganya Allah, mudah-mudahan.
Selama jalan juga budhe ...

Untuk yang sekarang masih bisa bertemu fisik, semoga kebersamaan tak disia-siakan. AKu ingin mengambdi pada kebersamaan ini. I love you, Ibu, Rita istriku, dan semua keluarga yang ada.

di atas parahyangan jakarta-bandung, di sebuah sore jelang maghrib, 14 Agustus 2006.