Wednesday, August 16, 2006

Tak akan murung

Bagaimana aku akan bermuram muka ketika masalah datang.
Sedangkan adikku saja, menghadapi kematian dengan senyuman,
saat-saat akhir pun, ia masih sanggup menebar keceriaan.

Untuk orang-orang yang teguh. Untuk dik Siska. Mas mu tak akan murung untuk apapun masalah yang datang menghadang. Innalaha ma'ana

Jenu, Tuban, 12 Agustus 2006
Untuk adikku, Siska Yuli Rianti, yang darimu mas belajar banyak tentang ketabahan dan mewujudkan rasa syukur.

mas mu, adik ku

Adikku, enkau ditakdirkan sebagai peri, semua yang berkumpul menjadi ceria ketika engkau hadir.
Engkau pula yang ditakdirkan sebagai bidadari, dunia melirik jeli ketika engkau melintas sekilas.

Duhai yang hanya sekejap,
Duhai yang hanya mengecup kuntum melati lalu pergi...
Engkau berjuta cerita
Sulit kami lupa.

Mas Wahyu-mu
Bandung - Tuban (di atas brebes), 10 agustus 2006 (sekuat cahaya, ingin sekali memeluk jasadmu tadi pagi sebelum engkau dimakamkan, tapi tak keburu.. maaf ya dik)

Untuk dik Siska Yuli Rianti, meninggal di usia 23 tahun lebih sebulan (9 Juli 1983 - 8 Agustus 2006), di tuban.

Wednesday, August 09, 2006

dik siska kepundut

setelah lama tidak menulis blog, menyesal nian menuliskannya dengan sebuah kabar duka. berita itu datang semalam, lewat ponsel istri yang sedang pulas di sampingku. ia mengangkatnya, dan langsung memberikan kepadaku. di ujung sana, suara wanita yang sangat kukenal terisak sambil berkata "Yu, dik Siska kepundut" .... Ibuku mengabarkan "mimpi" itu lewat suara yang bercampur air mata. hingga saat itu, tak terlalu sadar aku. ah ... ini mimpi.
Hingga kusadari ternyata ada sebuah pesan singkat yang menyangkut di ponselku sendiri, dari lik wat, saudara bungsu ibu. "Kembali ke pangkuan Tuhan Yang Maha Kasih, adinda SISKA YULI RIANTI: selasa 9 agt 06. SEmoga Tuhan melapangkan amalannya menuju taman firdaus yang tenang. Amin" dikirim pukul 01:50:29.
Lalu mbak Ira, telepon selang beberapa menit kemudian, "Kamu sudah tau ta, dik siska ...." ucapanyya terputus lirih sekali.
dan ... meme menelepon, "nang ... dik siska ..." ah.... tumpah air mata di pelukan istriku. terjaga dari ketakpercayaan.

dik Siska, begitu banyak kebaikannya... adikku....