Thursday, July 28, 2005

badai orang jatuh cinta

Sekali waktu saja, mari kita berbicara tentang orang-orang yang patah hati. Atau kasihnya tak sampai. Atau cintanya ditolak. Seperti sayap-sayap Gibran yang patah. Atau kisah kasih Zainuddin dan Hayati yang kandas ketika kapal
Vanderwicjk tenggelam. Atau cinta Qais dan Laila yang membuat mereka majnun, lalu mati. Atau jangan- jangan ini juga cerita tentang cinta Anda sendiri, yang kandas dihempas takdir, atau layu tak berbalas.

Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksikan fakta lain. Kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-NYA,pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.

Jadi kita hanya patah atau hancur karena kita lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya. Maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita.


Betul nggak sih?

malu dan takut

Lebih baik mana, malu atau takut? Dalam banyak hal, menurut pengalaman saya, perasaan malu lebih gawat dari pada perasaan takut. Takut bisa dilawan hingga takut itu hilang. Atau berlatih terus hingga kemampuannya melebihi ketakutan yang ada. Tetapi malu, adalah sebuah penyakit kronis. Ia mengakar dan menyebar. Menguasai seluruh sel keberanian dan sistem syaraf, menggerogoti sistem kekebalan tubuh. Seperti tumor, seperti kanker. Untuk mengobatinya, diperlukan sebuah operasi total untuk mengangkat jaringan penyakitnya. Setelah itu, masih diperlukan terapi khusus beberapa saat lamanya. Takut adalah penyakit ringan. Dan malu, adalah virus yang gawat. Keduanya, sebenarnya masih diperlukan bila tidak melebihi ambang bahaya. Semoga kita terhindar dari kedua hal tersebut dalam porsi yang terlalu banyak sehingga menjadi penyakit yang menjengkelkan.

Thursday, July 21, 2005

lukisan maghrib tadi

Saya jarang menyebut seseorang dengan cantik, apalagi menuliskannya dalam sebuah catatan. Selama ini,saya lebih nyaman menyebut seseorang dengan menarik, manis, atau ‘wajahnya tak membuat mata lelah memandang’. Bukan apa-apa, cantik, menurut saya adalah kata yang eksploitatif setelah seorang lelaki memandang lekat-lekat seorang wanita, memelototi setiap inci kulit, lalu dada berdegup kencang.

Hingga sore ini, saya rasakan sehelai benang ruh terurai dari pori-pori dada, menyelusup keluar terbang, melayang dan meninggi berkelok-kelok seperti asap lepas dari sisa api. Lalu selarik ungkapan terpikir tapi tak terbaca. Ketika seseorang lewat di jarak yang tidak jauh. Selintas saja. Sekelebatan baju putih dengan rok hitam, lalu wajahnya menghilang di balik kerudung terang. Aih, cantik nian pemilik wajah itu.

Saya mengatakan cantik, meskipun tak memandang lekat-lekat. Saya pun tahu itu setelah merasakan selembar benang ruh keluar terbang, melayang dan mininggi berkelok-kelok ke langit senja yang abu-abu.

-- catatan 19 juli 2005 – setelah melihat lukisan bidadari maghrib tadi

Tuesday, July 19, 2005

cita-cita itu

Beberapa hari ini saya agak aktif menulis blog. Bukan karena saya memang penulis. Tapi saya selalu merasa belum berhasil menjadi seorang penulis. Kuliah di Jurnalistik – ilmu yang keren sekali saya rasa – belum juga membuat saya menjadi sosok jurnalis yang ada di benak saya waktu itu. Entah kapan waktu itu datang: belajar tiap hari, menemui hal-hal baru, selalu berganti warna, orang-orang yang berlainan, tema demi tema yang berloncatan genit, jadwal berpergian, terbang dan hinggap di titik-titik mesra, lalu kembali dengan kaya dan raya.


Terima kasih untuk mqfm – di sebuah petak yang ada komputernya, di situlah saya mengetik-ngetik ... lalu membayangkan menjadi penulis (he he... masih pkl .. tahap akhir – mudah2an tidak terlalu tua)

Monday, July 18, 2005

doa senin pagi

Ya Allah, di Senin pagi ini, hamba mohon, bukakan mata hamba lebar-lebar agar tidak mengantuk. Lapangkan hati hamba agar tidak suntuk. Segarkan kesehatan hamba agar tidak lemas dan lesu. Karena hamba ingin sekali, tujuh hari dalam pekan ini, setiap detik dalam menit dan jam, hati hamba terlibat lekat dalam setiap inci perputaran roda waktuMu. Ijinkan hamba memenuhi isi dan memaknai setiap apa yang kau cipta.

Friday, July 15, 2005

membentuk keinginan

Beberapa hari ini saya agak aktif menulis blog. Bukan karena saya memang penulis. Lagi pula saya selalu merasa belum berhasil menjadi seorang penulis. Kuliah di Jurnalistik – ilmu yang keren sekali saya rasa – belum juga membuat saya menjadi sosok jurnalis yang ada di benak saya waktu itu. Entah kapan waktu itu datang: belajar tiap hari, menemui hal-hal baru, selalu berganti warna, orang-orang yang berlainan, tema demi tema yang berloncatan genit, jadwal berpergian, terbang dan hinggap di titik-titik mesra, lalu kembali dengan kaya dan "raya".


Terima kasih untuk mqfm – di sebuah petak yang ada komputernya, di situlah saya mengetik-ngetik ... lalu membayangkan menjadi penulis (he he... masih pkl .. tahap akhir – mudah2an tidak terlalu tua)

Thursday, July 14, 2005

bulat

Yakin, percaya, diri, utuh, teguh, lurus, tak terkecewa, mantap, bulat, melesat, jitu, lembut, istiqomah, lega, lepas, tak batas, penuh, jelas, tajam, tak goyah ....

Sesuatu itu nanti, pasti.

SGA

kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke cakrawala... (Seno Gumira Ajidarma)

Ganesha 15

Jumat sore selalu menjadi saat yang menggembirakan bagi kami. Karena besoknya hari Sabtu, lusanya hari Minggu.
Dua hari menyenangkan - yang kami bisa tidur lagi setelah jam tujuh pagi. Kalau mau, sampai dzuhur atau ashar pun kami bisa baru bangun. Setelah bangun, tak harus mandi atau bercelana setelan kerja kantor. Bangun tidur langsung bisa pesan bubur ayam di depan Ganesha, dan mengangkat kaki sambil menyetel komputer. Menjelajah negeri-negeri mana saja lewat layar 15” yang tersambung dengan internet. Kalau tidak malas, kami bisa mencuci baju yang hanya segitu-gitunya, dan menjemurnya di halaman dalam yang rumputnya hijau segar.
Tidak ada jemuran sebenarnya, karena kami selalu menjemurnya dengan kursi-kursi teras yang dijajar dan dihubungkan dengan bambu.
Kalau pas lagi mujur, kamar mandi utama tidak terkunci. Sehingga kami bisa berlama-lama mandi di bawah shower, be’ol di kloset duduk, dan tak bakal bau karena ada pewangi dan penyedot udara. Nyaman sekali rasanya. Saya sering nyeletuk kepada salah seorang kawan yang sama-sama tinggal di sana, “Fuih, kapan punya rumah seperti ini ya?” dan teman tadi menjawab, “Sekarang pun tempat ini kita yang punya, setiap Jumat Sore sampai Minggu Malam”. Dan kami tertawa panjang bersama. Bahagia sekali, padahal kantong sering pas-pasan.

Salah seorang teman yang lainnya selalu tidur berselimut setiap Sabtu pagi. Pukul sepuluh baru bangun, langsung menghadap buku – kalau tidak ingin mandi dulu. Maklum, ia juga seorang dosen muda di sebuah perguruan tinggi swasta terkenal.

Satu lagi, betah sekali di depan internet. Entah apa saja yang dilakukannya. Saya sering melihat ia chating. Atau membuka-buka situs teknik. Wajahnya sampai gelap gara-gara kepanasan di depan komputer. Sehabis mandi pagi, jarang kelihatan sudah mandi. He he ..

Kami biasa berchating lama-lama. Memperbanyak teman di friendster. Membuat blog yang dihiasi kata-kata gombal hingga kata-kata mutiara, atau puisi-puisi yang kurang nyeni. Tapi kami sangat menikmati.

Dan saat yang paling dibenci adalah Senin pagi. Pukul tujuh ruangan sudah ribut. Kalau tidak kursi digeser, suara lantai disapu dan besutan kain pel. Sejam kemudian, satu persatu komputer menyala. Telepon di meja berisik memanggil-manggil. Teriakan-teriakan suruhan memecah kedamaian hari.

“Selamat datang di Senin pagi, lima hari akan seperti ini terus,” seakan Senin Shubuh selalu mengucapkan itu.

Walaupun tidak langsung bekerja, tapi suasana ini sungguh menjengkelkan.

“Tenang, men, Jumat Sore tidak akan lama ....,” ujar yang satunya enteng.

Dan benar saja, Jumat sore selalu datang tepat pada waktunya. Ia setia di pinggir pekan, menjadi gerbang di senja yang bersabat. Seakan menyambut kami dengan kata-kata, “Ayo, ayo ... sahabatku yang lain, sang Sabtu dan sang Minggu sudah ada di depan, mereka menanti kalian, rehatlah barang sejenak, keluar dari kotak rutin itu. Mudah-mudahan kalian mendapatkan sesuatu yang berbeda akhir pekan ini ..”
***

Untuk Uji, Ferry, Wardi, dan semua gerilyawan yang pernah menjadikan Ganesha 15 (PIB) sebagai labuhan jiwa. Pada kemana kalian sekarang? Terutama Wardi dan Ferry, masih di sana, Pak? Saat-saat itu menyenangkan sekali. Semoga suatu saat kita bisa membeli tempat seperti itu. Dan menjadikan setiap hari adalah akhir pekan .. ha ha... (tentu saja, ketika passive income menjadikan kita tak lagi memikirkan harus ngirit makan seperti apa esok hari).

Wednesday, July 13, 2005

surat dari yogya

seorang teman kirim kabar dari yogya lewat email siang ini. kangen sekali rasanya dengan kota itu - sebuah kota yang dulu saya rajin menyambangi setidaknya sebulan sekali. ketika kedatangan saya di sebuah stasiun kecil selalu disambut dengan ritual kecil berupa senyuman hebat dari gadis berkerudung yang berdiri setia di depan pintu peron, sambil melongok-longokkan kepala seakan khawatir saya tidak jadi datang. ah, yogya.
hingga akhirnya ternyata keadaan yang blunder membuat saya mual hingga kini; tak tahu mana barat mana utara. hingga saya pernah berpikir, mungkin saya tak akan sanggup menyinggahi stasiun itu lagi. mungkin hati tak akan sanggup tersembilu oleh kenangan. saya kira, setiap ke kota itu, setiap sudut adalah bayangan tentang dirinya, setiap angkringan, setiap halte bus, setiap persimpangan adalah derai tawa memori berdua.
ah, ternyata hati tak selemah itu kok. saya malah sudah kerap menyambangi kota itu lagi untuk berbagai urusan - pekerjaan, bisnis, menjenguk teman sakit, atau sekadar main melepas kangen. tanpa ada kesedihan yang melankoli. semuanya menjadi biasa-biasa saja. tak ada yang istimewa, selain cinta untuk kota itu, yang sudah lama ada sebelum kenal dan berpisah dengan gadis berkerudung yang selalu mempersembahkan ritual kecil dengan senyumnya yang hebat, di stasiun itu - dulu.

****
surat dari indra:

***
Assalamualaikum...

Kabar baek Ji....lagi tenggelam dalam beban hidup menyebalkan nih.....skripsi! Btw, met ultah ya....wah, seperempat abad? hmm.....dirayakan di angkringan deket rumahku kayaknya cukup pantas
kita lagi bikin biografinya Purdi? wah ikutan dong, minimal aku bantu ngeditin sini....hehehe! Soal bisnis, sepertinya aku lagi ada jalan nih Ji...baru2 ini dapet rumah gaya Jawa, milik kerabat Keraton, yang boleh dipake buat kegiatan2. Jadinya aku bikin kafe ama art gallery sekalian, karena letaknya persis di samping pintu masuk Tamansari. Target pasarnya jelas turis asing ato domestik, plus tempatnya aku sewain untuk event2 lingkup terbatas, kayak diskusi, pemutaran film, seminar kecil2an, dll. yah, doain aja bisa jalan....insya allah semua cita2ku bisa numpang lewat sini: ketemu turis asing, bahasa asingku makin oke, diajak kerja di negeri mereka, minimal diajak liburanlah, hehehe....moga juga gak ganggu skripsi. Soalnya aku kalo berkutat di skripsi doang rasanya membetekan gitu....haha! mau gabung?gimana bisnis laundry-mu Ji? ide angkringan jadi direalisasikan? peluang lho...

GImana kabar terakhir EI Ji? Apakah kita masih akan terus terbit? kabar anak2 laen gimana, ada yang down ato sejenisnya? Moga kita selalu kuat.....sedih mengingat bebrapa hari yang lalu ada beberapa orang yang berkomentar asik buat EI...dia nggak tau aja...hehehe.
Aku sendiri malah kangen Bandung Ji....maklum ada yang dikangenin...kadang kepikiran buat naek motor aja ke sana, supaya di Bandung mobilitasnya bisa enak..

Aku kayaknya nggak bakal lulus Agustus ini. kalopun lulus bulan depan, wisudanya tetep November...yeah....gak papalah....

Oke.udahan dulu bro......see ya soon!

Wassalam.....

Tuesday, July 12, 2005

lulus kuliah

ternyata benar, waktu tidak berjalan, tapi terbang!
dan agustus sudah ada di depan. dua bulan lalu, saya ingin menyelesaikan studi bulan delapan ini. ternyata, sepertinya akan imposible.
siapa yang salah?
saya.

Monday, July 11, 2005

senja di pagi hari

belakangan saya suka sekali membuka-buka sebuah situs blog tetangga. Namanya negeri-senja.com. entahlah, saya seperti akrab sekali dengan tulisan-tulisannya. Tentang jakarta (meskipun saya jarang sekali ke sana dan setengahnya agak malas kalau nanti harus tinggal di sana), tentang suasana kantornya, tentang Solo (yang saya menganggapnya tidak terlalu berbeda dengan Yogya, dan Yogya bagi saya adalah cinta). Lalu tentang seperempat abad.

Saya sekarang 25 tahun. Dan masih saja merasa belum sehebat seharusnya. Belum hebat, kalau dibandingkan dengan Bung Karno yang di usia ini sudah keluar masuk penjara, belum hebat kalau dibandingkan dengan tren sukses dan kaya jaman sekarang yang biasanya dimulai usia 25 tahun. Saya? Rasanya belum seberapa. Meskipun di usia 24 kemarin paling tidak sudah mempunyai satu tugu peringatan berupa keberhasilan membuka bisnis dan sudah bisa menggaji karyawan sebanyak 6 orang (berhasil membuka belum tentu berhasil menjalankan dan memertahankan, bukan? .. tapi saya ingin sekali bisnis ini bisa membuahkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi kami semua. Amin).
lalu, 25 tahun semestinya saya sudah lama lulus. Bekerja sebagai profesional di sebuah kantor yang bisa membahagiakan Bu'e dan Bapak, dan sederet pelapis dunia lainnya.

Tapi, saya belum juga menemukan yang paling bisa saya banggakan saat ini. Apakah saya harus bertanya, normalkah perjalanan saya ini? Tapi saya pikir normal saja. Karena saya banyak melihat orang yang berusia lebih tua dari saya sifatnya masih seperti anak-anak, sangat labil dalam emosi, dan pendek sekali jalan pikirnya. Lhah, pendek? Bukankah saya juga pendek? Ha ha ...

Dan seharusnya saya selesai kuliah agustus ini. Lalu memilih jalan yang harus saya pilih: fokus berbisnis atau membuat lamaran pekerjaan sesuai bidang saya di kuliahan. Atau, memilih hidup di dua kuadran!
Tapi entahlah, untuk sekadar lulus rasanya seperti mission imposible saja. Akhir Juli nanti harus selesai skripsi, dan sekarang saya masih kerja praktek? Oh, how can I do.

Dan saya berpikir lagi. Wajarkah ini, 25 tahun masih berkutat dengan hal-hal ini saja?


terimakasih untuk juru warta perempuan yang memiliki blogg negeri-senja, Atta. saya suka tulisan-tulisan Anda, lumayan bisa mengobati kangen buku2nya SGA yang sudah habis saya baca semua. tapi saya kira, anda tak ingin disamakan dengan SGA. karena Atta, ya Atta.

Saturday, July 09, 2005

+

positive feeling .... more than positive thinking

surat untuk teman

What a simple is

hi, nulis email lagi nih. maaf gak lewat sms (belum punya pulsa). ceritanya, beberapa hari ini aku baru nemu situs bagus banget (menurutku). ditulis sama seorang perempuan, kelihatannya masih cukup muda. usia 26-an. itu situs blogg pribadi. alamatnya www.negeri-senja.com. bagus deh. di sana, ada sebuah tulisan yang mungkin cocok buat kita semua, judulnya "mematahkan hati". diposting 9 juni 2005. penulisnya bernama inisial atta. sepertinya ia seorang jurnalis perempuan di ibu kota. selain tulisan itu, masih banyak tulisan yang enak sekali dibaca. mencitrakan penulisnya yang tangguh dan cukup bijak menghikmahi setiap makna. ngiri deh aku:)

ok, temanku. kita berjuang terus ya. dunia ga akan berhenti dengan kita tertahan pada masa lalu. masih banyak tema lain yang harus kita singgahi. masih banyak hati lain yang perlu kita kunjungi. masih ada jiwa lain yang pasti sedang menunggu saat perjumpaan dengan kita. aku akan tetap jadi temanmu.