Saya jarang menyebut seseorang dengan cantik, apalagi menuliskannya dalam sebuah catatan. Selama ini,saya lebih nyaman menyebut seseorang dengan menarik, manis, atau ‘wajahnya tak membuat mata lelah memandang’. Bukan apa-apa, cantik, menurut saya adalah kata yang eksploitatif setelah seorang lelaki memandang lekat-lekat seorang wanita, memelototi setiap inci kulit, lalu dada berdegup kencang.
Hingga sore ini, saya rasakan sehelai benang ruh terurai dari pori-pori dada, menyelusup keluar terbang, melayang dan meninggi berkelok-kelok seperti asap lepas dari sisa api. Lalu selarik ungkapan terpikir tapi tak terbaca. Ketika seseorang lewat di jarak yang tidak jauh. Selintas saja. Sekelebatan baju putih dengan rok hitam, lalu wajahnya menghilang di balik kerudung terang. Aih, cantik nian pemilik wajah itu.
Saya mengatakan cantik, meskipun tak memandang lekat-lekat. Saya pun tahu itu setelah merasakan selembar benang ruh keluar terbang, melayang dan mininggi berkelok-kelok ke langit senja yang abu-abu.
-- catatan 19 juli 2005 – setelah melihat lukisan bidadari maghrib tadi
Thursday, July 21, 2005
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment