Thursday, July 14, 2005

Ganesha 15

Jumat sore selalu menjadi saat yang menggembirakan bagi kami. Karena besoknya hari Sabtu, lusanya hari Minggu.
Dua hari menyenangkan - yang kami bisa tidur lagi setelah jam tujuh pagi. Kalau mau, sampai dzuhur atau ashar pun kami bisa baru bangun. Setelah bangun, tak harus mandi atau bercelana setelan kerja kantor. Bangun tidur langsung bisa pesan bubur ayam di depan Ganesha, dan mengangkat kaki sambil menyetel komputer. Menjelajah negeri-negeri mana saja lewat layar 15” yang tersambung dengan internet. Kalau tidak malas, kami bisa mencuci baju yang hanya segitu-gitunya, dan menjemurnya di halaman dalam yang rumputnya hijau segar.
Tidak ada jemuran sebenarnya, karena kami selalu menjemurnya dengan kursi-kursi teras yang dijajar dan dihubungkan dengan bambu.
Kalau pas lagi mujur, kamar mandi utama tidak terkunci. Sehingga kami bisa berlama-lama mandi di bawah shower, be’ol di kloset duduk, dan tak bakal bau karena ada pewangi dan penyedot udara. Nyaman sekali rasanya. Saya sering nyeletuk kepada salah seorang kawan yang sama-sama tinggal di sana, “Fuih, kapan punya rumah seperti ini ya?” dan teman tadi menjawab, “Sekarang pun tempat ini kita yang punya, setiap Jumat Sore sampai Minggu Malam”. Dan kami tertawa panjang bersama. Bahagia sekali, padahal kantong sering pas-pasan.

Salah seorang teman yang lainnya selalu tidur berselimut setiap Sabtu pagi. Pukul sepuluh baru bangun, langsung menghadap buku – kalau tidak ingin mandi dulu. Maklum, ia juga seorang dosen muda di sebuah perguruan tinggi swasta terkenal.

Satu lagi, betah sekali di depan internet. Entah apa saja yang dilakukannya. Saya sering melihat ia chating. Atau membuka-buka situs teknik. Wajahnya sampai gelap gara-gara kepanasan di depan komputer. Sehabis mandi pagi, jarang kelihatan sudah mandi. He he ..

Kami biasa berchating lama-lama. Memperbanyak teman di friendster. Membuat blog yang dihiasi kata-kata gombal hingga kata-kata mutiara, atau puisi-puisi yang kurang nyeni. Tapi kami sangat menikmati.

Dan saat yang paling dibenci adalah Senin pagi. Pukul tujuh ruangan sudah ribut. Kalau tidak kursi digeser, suara lantai disapu dan besutan kain pel. Sejam kemudian, satu persatu komputer menyala. Telepon di meja berisik memanggil-manggil. Teriakan-teriakan suruhan memecah kedamaian hari.

“Selamat datang di Senin pagi, lima hari akan seperti ini terus,” seakan Senin Shubuh selalu mengucapkan itu.

Walaupun tidak langsung bekerja, tapi suasana ini sungguh menjengkelkan.

“Tenang, men, Jumat Sore tidak akan lama ....,” ujar yang satunya enteng.

Dan benar saja, Jumat sore selalu datang tepat pada waktunya. Ia setia di pinggir pekan, menjadi gerbang di senja yang bersabat. Seakan menyambut kami dengan kata-kata, “Ayo, ayo ... sahabatku yang lain, sang Sabtu dan sang Minggu sudah ada di depan, mereka menanti kalian, rehatlah barang sejenak, keluar dari kotak rutin itu. Mudah-mudahan kalian mendapatkan sesuatu yang berbeda akhir pekan ini ..”
***

Untuk Uji, Ferry, Wardi, dan semua gerilyawan yang pernah menjadikan Ganesha 15 (PIB) sebagai labuhan jiwa. Pada kemana kalian sekarang? Terutama Wardi dan Ferry, masih di sana, Pak? Saat-saat itu menyenangkan sekali. Semoga suatu saat kita bisa membeli tempat seperti itu. Dan menjadikan setiap hari adalah akhir pekan .. ha ha... (tentu saja, ketika passive income menjadikan kita tak lagi memikirkan harus ngirit makan seperti apa esok hari).

No comments: