seekor anjing,
matanya nelangsa,
berkilauan tak jelas mana air mana marah,
tak ada yang mampu mengerti.
baru saja sebuah mesin beroda menabraknya,
sang pengendali mesin terjungkal berjumpalitan,
untung bisa teriak-teriak,
lalu orang berdatangan membawa berbagai alat pertolongan.
mulut anjing menganga setengah,
nafasnya memburu,
tak jelas mana hampir putus mana marah,
rusuknya patah,
aku bisa melihatnya dari posisinya yang bengkok,
perut, bisa bengkok? betapa perihnya.
sang pengendali mesin digotong beramai,
anjing masih di tengah jalan.
sayup aku mendengar,
sebuah bahasa aku dengar,
dari kerongkong anjing yang mulai putus asa.
tak seorang pun menolong anjing,
hanya kasihan campur najis menyelimuti,
membuat mereka membeku.
lalu hatiku merasakan nyeri,
seandainya aku anjing itu,
lalu apa yang hendak aku teriakkan kepada makhluk-makhluk lain yang tak mengerti bahasakku itu?
"SAKIIIIIIIT ..... "
"NYERIIIIIII ..... "
"PERIIIIHHHH ......"
"SESUATU, SEPERTINYA TULANG DI DALAM PERUTKU PATAHHHHH ....."
lalu aku marasakan jantungku basah,
aku menangis di dalam sana,
aku tak bisa menolong anjing,
aku lewat begitu saja,
di balik kaca bermesin.
anjing itu menatapku,
matanya, tepat ke mataku,
aku ingin memeluknya,
menggendong dan menyelimuti, tidur di kasurku yang tak hangat,
aku ingin kau tahu, betapa aku juga merasa nyeri.
aku pergi,
tapi hatiku bersamamu, anjing
semoga lekas kau mati,
karena di sini tak ada UGD khusus binatang, apalagi anjing,
semoga kau sedang berdzikir,
lalu Allah membelai-belai ruhmu.
Ah, andai kau bisa mengatakan sesuatu,
aku hanya berandai,
apa yang akan kau katakan tentang sakitmu itu.
Bandung - Garut, 12 feb 05
Saturday, February 12, 2005
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment