Monday, February 07, 2005

anakku ..

Nak, Bapak punya cerita,
Dulu, Bapak punya cinta,
Dengan seseorang yang sangat indah,
Bapak membuka percakapan pertama kali dalam sebuah perjalanan,
Dan menjadi akrab pula dalam perjalanan-perjalanan yang lain.

Bapak sangat mencintainya, ia pun
Ia membutuhkan Bapak, Bapak pun
Pokoknya, waktu itu, yang ada di mata Bapak dan ia, masa depan adalah pasti akan kami arungi
Tiada lainnya, tiada cinta lainnya, bahkan kami pun sepakat mengunci mati pintu-pintu cinta untuk yang lain, dan membuang kunci pintu itu ke sebuah lautan dalam agar tidak ada lagi jalan kembali selain kami harus berjalan berdua, suka atau duka,
Kami seperti dua pahlawan cinta. Satunya lembut, satunya sangat peka, benar-benar serasi. Dunia seisinya mendukung kami, laut tenang membawa kami berlayar ke tempat-tempat yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Tapi, nak, laut tidak tenang setiap saat,
Ada kalanya ketenangan itu menjadi kebalikan yang membuatmu kaget, arus dan gelombangnya membuat kamu mual.

Dan itulah yang terjadi pada kami,
Karena satu alasan kami harus menumpang kapal yang berbeda,
Karena kami memang belum sempat membangun kapal, selama ini kami hanya menyewa, mengontrak, dan berlagak seperti kapal sendiri, kami melakukan pelayaran yang sangat jauh, berhari-hari dan bermalam-malam, kami adalah petualang yang merasa tak akan ada yang sanggup menandingi.

Nak, di atas langit ada langit, di seberang laut ada samudera,
Kami hanya melihatnya sedikit saja, di atas kapal yang kami sewa,
padahal kalau kami melihatnya dengan kapal sendiri, niscaya akan lebih nyaman, lebih tidak terburu-buru dan tidak seperti dikejar-kejar tagihan sewa.
Tapi kami tidak sabar, sehingga kami nekat menyewa sebuah kapal dan pergi entah ke mana gelombang asyik masyuk membawa kami, kami tak sabar kalau harus menunggu waktu bisa membagun kapal sendiri.
Waktu itu, kami sangat ingin berlayar bersama, itu saja. Membuat kapal? Bapak dengan gagah menyanggupinya, dalam rencana.
Begitupun ia, dengan yakin mengiyakannya, dalam rencana.

Anakku,
Cinta kami sangat dalam,
Sangat kuat,
Sangat lekat,
Sangat mampu berkorban apa saja,
Sangat tidak gentar menghadapi halangan apapun,
Sangat tak takut salah. Cinta adalah cinta, semua yang irasional bisa dirasionalkan,
Semua yang membutuhkan waktu bisa ditarik sedemikian dekat sehingga bisa dinikmati sekarang juga,
Semua yang tak mungkin kami jadikan mungkin.
Kata orang waktu itu, nak, itulah kekuatan cinta.
Bapakmu tak mampu mengelak,
Begitu pun ia,
Yang ada dalam hati dan dada kami, kami sangat ingin bersama, berbagi, dan selalu ada satu sama lain.

Dia, nak, jangan tanya siapa,
Tapi satu yang pasti,
Bapak sangat mencintai ibumu sekarang.
Ibumu pun. Kami sangat. Bapak sangat beruntung. Ibumu pun.
Dan dulu adalah dulu.




Itulah cinta, nak,
Kau pun pasti akan mengalaminya.

Meski khawatir,
Bapak tidak akan membuat penjara bagimu.
Tapi betul, nak, Bapak sangat khawatir,
Meski Bapak tahu kamu tidak membutuhkan kekhawatiran Bapak ini dalam bergaul dan bercinta,
Kau akan merasa telah dewasa sehingga kekhawatiran Bapak h
anya akan membuatmu terkungkung dan seperti anak kecil (padahal bagi Bapak, kau tetap anak kecil Bapak).
Karena itu, nak, Bapak tidak akan melarangmu berbuat sesuatu
Bapak hanya meminta satu hal saja dari kamu, nak,
Mari kita buat ruang-ruang dialog,
Engkau boleh bertindak apa saja,
Tapi sebagai orang tuamu, Bapak masih punya hak untuk bertanya secara baik-baik, bukan?
Dan Bapak ingin engkau bisa memberikan argumen terbaikmu secara bertanggung jawab di depan Bapak.
Setelah itu kita berkomitmen masing-masing untuk memegang komitmen bersama.

Nak, Bapak tahu, anak muda tidak terlalu suka banyak mendengar ucapan orang tua,
Tapi tahukah engkau, nak, orang tua selalu ingin mengatakan sesuatu pada anaknya,
Kau, nak, nanti juga akan mengalaminya.



Bogor, 19 Januari 2004


No comments: