Tuesday, November 30, 2004

"Saya ingin menyekolahkan Nanan, Ji!Saya ingin punya cukup uang untuk dakwah."

Baru saja saya menerima surat dari kawan lama. Beliau sekampus, beda jurusan, se-induk semang kos, beda rumah. Ia dulu yang mengajak saya, yudhy dan dady menjadi guru ngaji di TPA Ar Rahman. Sebuah masjid kecil di gang mawar V, gang kosan kami. Masjid bukan jami', di tengah ramainya Kami meriahkan masjid mungil itu dengan canda tawa riang adik-adik. Kami hiasi dindingnya, kami cat dengan warna cerah. Kami sangat mencintai aktivitas di masjid yang kalau hujan terasnya becek itu, yang speakernya kalau dipakai buat adzan suaranya sembreng. Sampai-sampai kami bikin AD-ART hanya karena kami sangat ingin aktivitas TPA di masjid itu tidak mati begitu saja begitu harus ganti generasi. Kami Mubes sampai larut malam. Mana ada TPA kampung sampai niat bikin AD-ART waktu itu. Tapi kami sangat bersemangat. Lalu terpilih Dady sebagai ketua TPA (apa kabar teman sebalah kamar kos saya itu sekarang? Semoga Allah memeliharanya). TPA Ar Rahman ramai sekali dengan kegiatan. Setiap sore, adik-adik sudah meneriaki kosan kami dengan polah masing-masing, mengajak ngaji. Padahal waktu mengaji masih setengah jam lagi. Kami pun masih malas-malasan karena ingin tidur siang sepulang kuliah. Lalu biasanya mereka mengetuk-ngetuk pintu, membuat keributan di depan kamar. "Kak Aji ... Kak Aji ... Kak Yudhy, Kak Dady, ngajar nggak, Kak?" teriak mereka bersahutan. Duh, setiap pukul tiga, kami sudah siap-siap membenamkan kepala di dalam bantal, sering kesel mendengar teriakan mereka. Mereka bersemangat sekali, padahal kami kan masih capek. Ngantuk lagi. Siapa sih mereka? Sodara juga tidak. Mereka adalah anak-anak kampung setempat. Beberapa bahkan dari kampung sebelah. Jumlahnya ada sekitar 25-an waktu itu, rata-rata kelas 2-5 SD. Beberapa ada yang belum sekolah, satu-dua yang SMP kelas 1. Duh, ramainya. Tapi kekesalan itu datang awal-awal saja. Kalau sudah bangun dan pergi ke masjid, rasanya senang walaupun banyak tingkah adik-adik yang bikin kami tidak sabaran. Seminggu sekali, tiap hari Sabtu, acaranya rihlah. Biasanya ke Unpad, naik "bukit" Ibnu Sina, di sana kami menemani adik-adik main bola ikhwan. Biasanya adik akhwatnya bergerombol di bunga-bunga, membuat mahkota-mahkotaan dari rumput liar di sekitar masji Ibnu Sina. Biasanya mereka ditemani kawan-kawan yang akhwat. Sesekali ada satu-dua yang menangis. Lalu minta digendong. Atau harus dibikin tertawa terbahak-bahak dengan digendong punggung, diajak lari main kuda-kudaan. Ada satu adik yang mirip banget sama boneka, namanya Enon. Putih, nyempluk, pipinya tembem, matanya agak sipit-sipit berbulu lentik. Malu-malu bila saya goda. Tapi kalau saya cuekin, dia yang menggoda-goda saya. Adik-adik itu karakternya macam-macam. Tapi selalu bisa membuat tertawa, paling sedikit tersenyum.
Rata-rata, orang tua mereka adalah penduduk asli kampung setempat. Sebagai penduduk asli, mereka adalah sedikit yang tersisa setelah tergusur mahasiswa yang semakin menyesaki Jatinangor. Ada yang tukang ojeg, pegawai cleaning service kampus, membuka warung. Sedikit yang berkecukupan, ada satu atau dua, tapi rata-rata menengah bawah. Kami sering berkunjung ke rumah-rumah mereka. Apalagi setelah sekitar tahun 2001, kami membuat program kakak asuh. Idenya saya lontarkan, setelah melakukan kunjungan tahunan ke rumah-rumah orang tua adik. Alhamdulillah teman-teman antusias mendukung. Jadilah program itu diluncurkan, saya jadi koordinatornya. Subhanallah. Benar-benar senang, dana yang terkumpul lumayan banyak, sampai-sampai kami bisa memberikan beasiswa kepada 15-an adik. Pada saat lebaran atau tahun ajaran baru, kami membelikannya bingkisan lebaran dan sepatu atau seragam keperluan sekolah. Ohya, ramadhan, kami selalu bikin Sanlat. Malam terakhir kami menginap masjid, acaranya sahur bersama. Menunya, membakar ayam sendiri. Nasi dan sayur lainnya dimasak di tempat kos teman-teman akhwat. Sebelum semua matang, adik-adik diajak ronda keliling kampung, lewat gang-gang sempit di antara kamar-kamar pondokan mahasiswa. "Sahuurr ...sahurr ... tek tok tek glok," aneka bunyian bersuara. Agung, pengajar yang datang belakangan dan sangat lucu itu mengkomando. "Jepret .. jepret," kilatan tustel mengabadikan momen indah itu. Lucu. Bikin ketawa, aku tidak bisa selucu Agung kalau masalah lucu-lucuan sama anak kecil .. ha ha.
Setahun sekali, kami ajak adik-adik rihlah ke tempat yang lebih jauh. Pernah ke Kiara Payung. Duh (sebentar ... saya sangat terbawa kenangan saat menulis ini), ramainya. Naiknya pakai angkot. Kebetulan salah satu orang tua adik ada yang sopir angkot kampus. Turunnya, beberapa jalan kaki. Terutama kakak-kakaknya. Wah ramainya.
Di Kirpay, bermain sampai capek, bercanda sampai sakit perut, makan-makan sampai kenyang. Kami harus nyuapin beberapa adik yang rewel. Karena semua harus bawa bekal sendiri, bisa dilihat, bekal siapa yang enak, bekal siapa yang sederhana saja. Ada yang pakai ayam, abon, sayur, sosis. Tapi ada yang pakai telor saja sama kecap. Kami ajari mereka berbagi kalau ada yang berlebih lauknya. Pulangnya, ada adik yang sudah nggak kuat jalan gara-gara kecapean. Jadilah menggendong bergantian. Waktu itu kakak-kakaknya ada sekitar tujuh orang.
Ohya, sebelum mengajak adik-adik, kami survey dulu. Berjalan kaki sekitar berlima. Lewat jalan-jalan yang kami sering tersasar dan harus kembali lagi untuk memeriksa jalan yang benar.
Sesama pengajar, seperti keluarga saja. Karena memang kami kos di bangunan yang bersebelahan. Akhwat sering mengirimi kami berbagai masakan hasil eksperimen mereka. Alhamdulillah, yang dikirim ke kami adalah yang berhasil saja, yang gagal katanya mereka telan sendiri pahitnya -- he he, mungkin, jaga imej juga kali ya di depan ikhwan, biar dikira ahli masak:)
Kami mendapat sambutan sangat hangat dari orang tua adik-adik itu. Senang sekali rasanya, mahasiswa kos seperti kami bisa sangat akrab dengan penduduk setempat. Di jalan-jalan, kalau ketemu mereka selalu menyapa. "Assalamualaikum, kamana A' Aji?" biasanya ibu-ibu bertanya seperti itu. Pernah sekali waktu saya yang menyapa duluan. "Assalamualaikum, bade kamana, Ibu?" sapa saya. Dan ibu itu menjawab panjang sekali dengan bahasa Sunda. Saya tak mengerti betul apa katanya, lalu tersenyum "Oh, mangga ibu," saya berlalu.
Sekali saya pernah sakit parah selama kos, sampai masuk rumah sakit, sampai Bapak dari Blitar harus datang mengurus tubuh sebesar ini yang tergolek lunglai tak berdaya di ranjang RSI, Jl. Soekarno Hatta. Banyak kawan datang menjenguk, dari teman-teman se-geng di kampus yang suaranya nyaring-nyaring kalau cekikikan, sampai adik-adik TPA yang memakai sandal japit dan berjilbab. Mereka membawakan apa saja, padahal di meja dekat ranjang saya sudah penuh makanan dan minuman. Malah teman-teman lainnya yang menghabiskannya:) Bapak seperti penerima tamu. Lima hari tergolek sakit, banyak sekali yang datang, berkelompok dengan pemimpin rombongan ataupun sendiri-sendiri.
Pulangnya, selang dua hari, ada kiriman agar-agar dan susu kaleng, juga beberapa bungkus roti sisir. Ada ibu-ibu datang, ia bilang maaf sekali belum sempat menjenguk ke rumah sakit. MasyaAllah, katanya, se-RT sudah pada tahu kalau Aji, salah satu pengajar Ar Rahman masuk rumah sakit. Ya Allah .. padahal kalau mereka sakit, jarang sekali aku menjenguknya. Betapa bangganya saya. Terkenal, meskipun hanya se-RT, tapi di kampung yang jauh sekali dari rumah. Kami semua, pengajar Ar Rahman, merasa sangat dicintai penduduk. Salah satu adik yang dapat beasiswa, orang tuanya selalu membawakan kami pisang atau apa saja hasil kebun setiap kali kami berkunjung ke sana untuk memberikan uang beasiswa yang tidak seberapa.

Dan cerita itu sudah agak lama. Semester-semester awal kuliah, sekitar tahun 2001 - 2003 awal. Sekarang, saya pindah kos ke Bandung, Yudhy tidak di sana lagi, Dady entah ke mana. Teteh-tetehnya, entah ke mana. Dan satu teteh kawan saya yang berkirim surat tadi, sekarang sudah lulus dan berada di Palembang. Berkirim kabar, mengingatkan saya akan waktu yang ternyata sangat lucu dan indah itu. Beliau bilang, bahwa keadaan di sana memerlukan perjuangan yang tidak sama dengan perjuangan dakwah ketika ada di kampus, ketika di masjid Ar Rahman yang mungil itu. "Saya harus selalu jadi riang, cerita dan selalu jadi penghibur, apapun kondisi yang terjadi di keluarga dan diri pribadi saya,"

"Saya ingin menyekolahkan Nanan, Ji!Saya ingin punya cukup uang untuk dakwah."

Kata-kata ini. Ya, kata-kata ini. Seakan-akan saya ada di dekatnya, bisa melihatnya sedang dengan mata yang berbinar dan berharap. Seperti dulu ia pernah membawakan doa ketika di evaluasi TPA mingguan dan menangis tersedu dengan suaranya yang kecil itu. Saya bisa melihatnya. Saya seperti mau menangis, tapi tak bisa.


persembahan untuk: Teh Evi (saya belajar banyak dari Anda), Dady (woi .. katanya sudah berubah ya?), Yudhy (Yud, transisi itu pasti), Eka (kemana ya yang lincah satu ini), Mbak Yuli (pernah ingin belajar bahasa Jepang, tapi belum ya Mbak), Agung (ente memang sudah cocok jadi bapak Gung, semoga banyak anak, kembar pula:), Mbak Sofi (agak misterius, tapi tetap bersahabat), Dini (cewek tomboy yang akhirnya jadi akhwat yang paten, salut ukh!), Subi (Al Veoli, pernah jadi bendahara program Kakak Asuh, istiqomah ya Bi), Romi (wah, saya ternyata bukan pelaksana mlm yang bagus ya mas) dan kawan-kawan yang pernah berbagi kantuk mengurus adik-adik TPA Ar Rahman. Semoga hati tetap saling menyentuh. Berjuang ya..

1 comment:

Fajar Terbit Bersama Kasih Sayang said...

Assalamu'alaikum ...
Subhanallaah, membuat saya merenung, Ji. Dibandingkan Aji, saya malah melalaikan amanah saya sebagai ketua TPA. Al-Huda vakum dan saya sibuk mengejar materi di luar sebagai anno,MC dan lain2, padahal TPA itulah yang menentukan mau menjadi manusia seperti apakah mereka di masa depan [Sigh]