"Ajari aku bersyukur," mintaku kepada setiap kejadian, orang, anak-anak jalanan yang tak pernah tahu alasan mengapa ia terlahir dengan nasib semalang itu, orang gila yang berjalan mondar-mandir lalu tidur malam hari di teras toko yang dingin dengan kebingungan yang sangat apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya, pengasong di bis-bis dan kereta api ekonomi, orang-orang kaya sibuk yang seluruh waktunya tersedot untuk kebahagiaan yang selalu ada selangkah di depannya, pengangguran yang kehilangan kepercayaan dirinya secara akut, suami-istri yang bercerai lalu anaknya pergi, anak yang ditinggal bapaknya lalu tinggal di keluarga kekurangan, anak yang sama sekali tak pernah merasakan nikmatnya memanggil "bapak", anak yang tak pernah merasakan hangatnya menenggelamkan wajah di dada ibu, orang jompo yang terlantar lalu mengemis di jalan-jalan, cucu-cucu yang durhaka kepada orang tua bapak-ibunya, karyawan atau entrepreneur kaya yang bisa membeli apapun lalu berpuas diri akan apa yang sudah diraihnya, orang-orang yang sampai tua hatinya kering tanpa pernah merasakan nikmat berucap "subhanaka rabial ala wabihamdi", remaja yang berpakaian setengah telanjang lalu menyebutnya sebagai pusat kebahagiaan karena itulah kebebasan berekspresi--bebas tanpa keterkekangan, pejabat yang merasa kemuliaan ada pada jabatan yang telah diterimanya dari amanat rakyat (Suara rakyat, suara tuhan. Jadi, amanat rakyat adalah restu Tuhan. restu Tuhan sama dengan restu Tuhan untuk berbuat apapun atas nama rakyat).
Ajari bersyukur, wahai siapapun yang bisa mengajariku. Aku sudah merasa sangat tak tahu diri selama ini. Aku sangat ingin tenggelam dalam-dalam dalam syukur. Ajari aku. Aku mohon.
Tuesday, November 30, 2004
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment